Kunci Hidup Tenang tanpa FOMO

  • 29 Apr 2026 10:50 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Keresahan, rasa hampa, hingga kebiasaan membandingkan diri (social comparison) menjadi fenomena yang kerap menghantui Generasi Z (Gen-Z) di tengah gempuran media sosial. Bayu Dwi Cahyono, M.Pd., dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menyampaikan tanggapannya ketika menjai narasumber dalam program Tasbih Pro 2 FM RRI Purwokerto, Jumat (24/4/2026)

Bayu menjelasakan perspektif spiritual sebagai solusi untuk meraih ketenangan hidup melalui pendekatan diri kepada Tuhan, sekaligus menggeser fokus dari sekadar eksistensi duniawi menuju esensi spiritual yang lebih mendalam. Ia menyoroti bahwa ketidak tenangan yang dialami Gen Z seringkali dipicu oleh penggunaan media sosial yang berlebihan, yang memicu sifat FOMO (Fear of Missing Out) dan kecenderungan untuk membandingkan pencapaian diri dengan polesan hidup orang lain di dunia maya.

Menurut Bayu, manusia seringkali terjebak pada dikotomi ilmu, di mana pencapaian sains dan duniawi dianggap lebih bergengsi daripada pemahaman agama. Padahal, agama berfungsi sebagai kompas moral dan sumber ketenangan hati. "Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang, orang menjadi galau karena mereka menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan secara berlebihan," jelas Bayu.

Dalam upaya meraih kedekatan illahi, Bayu menawarkan dua metode praktis yang dapat diterapkan sehari-hari:

  • Perencanaan Pagi: Menyisihkan waktu 10-15 menit setelah bangun tidur untuk merencanakan agenda hari ini sebagai wujud pengenalan diri dan penempatan peran yang tepat.
  • Evaluasi Malam: Melakukan refleksi atau zikir selama 5 menit sebelum tidur untuk mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan sepanjang hari sebagai dasar perbaikan di hari esok.

Lebih lanjut, Bayu menekankan pentingnya sifat Khauf (takut akan azab) dan Raja’ (harapan akan rahmat) dalam diri seorang mukmin. Harapan adalah kunci agar seseorang tidak jatuh ke dalam keputusasaan yang merusak kesehatan mental dan spiritual.

Menjawab pertanyaan pendengar mengenai perasaan "tidak pantas" untuk mendekat ke agama karena merasa penuh dosa, Bayu memberikan pesan yang inspiratif. Ia menegaskan bahwa setiap manusia memiliki aib yang ditutupi oleh Tuhan, sehingga tidak perlu menunggu sempurna untuk mulai beribadah. "Jangan menunggu pantas baru beragama, tapi beragamalah untuk memantaskan hidup Anda," tegasnya.

Diskusi ini menyimpulkan bahwa ketenangan hidup bagi Gen Z bukan dicapai melalui validasi orang lain atau kemewahan materi, melainkan melalui penerimaan diri (ikhlas), usaha yang maksimal (ikhtiar), dan kedekatan spiritual yang konsisten. Ketenangan adalah modal utama tidak hanya untuk menjalani kehidupan di dunia, tetapi juga sebagai bekal menuju kehidupan yang abadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....