Mubarok Institute: Indonesia Kian Strategis sebagai ‘Global Bridge’

  • 17 Mar 2026 19:11 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Posisi geopolitik Indonesia dinilai semakin krusial dalam dinamika global. Mubarok Institute menyebut pemerintah berhasil menempatkan Indonesia sebagai “global bridge” atau jembatan dunia di tengah meningkatnya polarisasi kekuatan internasional.

Ketua lembaga tersebut, Fadhil As. Mubarok, mengatakan kedaulatan modern tidak lagi diukur dari sikap isolatif, melainkan dari kemampuan negara berperan aktif dalam membentuk arah politik dan ekonomi global. Pernyataan itu disampaikan dalam diskusi informal bersama Sekretaris Jenderal Mubarok Institute, Herry Purnomo, serta Rauf Purnama.

“Menjadi kekuatan alternatif bukan berarti keluar dari sistem. Indonesia harus menjadi pemain besar sehingga keputusan global tidak bisa mengabaikan suara kita,” ujar pria yang akrab disapa Gus Fadhil dalam keterangannya yang diterima oleh RRI Purwokerto Selasa ( 17/3/2026).

Dalam analisisnya, Mubarok Institute menilai strategi “hedging” atau lindung nilai politik yang dijalankan pemerintah sebagai langkah tepat. Pendekatan ini memungkinkan Indonesia menjaga keseimbangan relasi antara blok Barat dan Timur tanpa terjebak dalam konflik kepentingan.

Selain itu, posisi tersebut dinilai memperkuat peran Indonesia sebagai representasi negara-negara berkembang atau Global South dalam forum internasional. Keterlibatan aktif dalam berbagai perjanjian dagang global juga dipandang sebagai instrumen untuk memperkuat kedaulatan industri nasional, bukan sebaliknya.

Soroti Kepastian Hukum dan Pemerataan

Di sisi domestik, lembaga ini menekankan dua faktor utama untuk menjaga stabilitas jangka panjang. Pertama, penegakan hukum yang tegas dan bebas korupsi sebagai fondasi keberhasilan program strategis nasional.

Kedua, pemerataan pembangunan atau keadilan spasial. Pengembangan wilayah non-sentral, termasuk kawasan selatan Pulau Jawa, dinilai penting untuk mengurangi ketimpangan ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif.

Gus Fadhil menambahkan, visi Indonesia Emas hanya dapat dicapai melalui kepemimpinan yang berorientasi pada hasil konkret. Ia menilai saat ini Indonesia tengah mengalami transformasi struktural dari eksportir bahan mentah menjadi pusat industri bernilai tambah.

“Indonesia kini sedang bertransformasi menjadi pusat nilai tambah dengan kedaulatan industri yang semakin diperhitungkan dunia,” ujarnya.

Mubarok Institute merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang riset kebijakan publik, hukum ekonomi, dan geostrategi. Lembaga ini berada di bawah Yayasan Mubarok Mutiara Indonesia dan aktif mengkaji isu-isu strategis seperti geopolitik, ketahanan pangan dan energi, serta integrasi infrastruktur ekonomi nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....