Sekolah di Era Cepat: Adakah Ruang untuk Bertumbuh?

  • 02 Jan 2026 15:20 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Pagi itu, bel sekolah berbunyi. Seorang siswa bergegas masuk kelas dengan wajah lelah. Hari ini ada presentasi proyek, besok ulangan, minggu depan asesmen. Di rumah, tugas menumpuk. Di sekolah, waktu terasa selalu kurang. Belajar seperti lomba lari, siapa cepat dia selamat.

Pemandangan ini bukan cerita satu sekolah. Di banyak tempat, sekolah kini hidup dalam irama yang semakin cepat. Kurikulum menuntut adaptasi, kebijakan datang silih berganti, dan capaian pembelajaran harus segera terukur. Guru berpacu dengan target, siswa dibiasakan bergerak dari satu tuntutan ke tuntutan berikutnya. Kecepatan perlahan menjadi ukuran keberhasilan.

Perubahan memang tak terelakkan. Dunia bergerak cepat, teknologi berkembang pesat, dan pendidikan dituntut menyesuaikan diri. Namun, di tengah percepatan itu, muncul pertanyaan sederhana tetapi penting, masihkah sekolah memberi ruang bagi anak untuk benar-benar bertumbuh.

Belajar sejatinya bukan proses instan. Ada anak yang cepat memahami, ada yang perlu waktu lebih lama. Ada yang berani bertanya, ada yang butuh dorongan untuk bersuara. Namun, dalam sistem yang serba cepat, perbedaan ini sering dianggap masalah. Anak yang tertinggal dicap lambat, bukan karena kurang mampu, melainkan karena tidak seirama dengan tempo sistem.

Filsafat pendidikan pragmatisme mengingatkan bahwa belajar adalah pengalaman hidup. John Dewey memandang pendidikan bukan sekadar pencapaian hasil, melainkan proses mengalami, mencoba, gagal, lalu memahami. Dalam kerangka ini, kecepatan bukan tujuan utama. Yang terpenting adalah apakah pengalaman belajar itu bermakna bagi peserta didik.

Sayangnya, pengalaman semacam ini kian sulit ditemukan. Jadwal padat, target menunggu, dan laporan harus segera diisi. Guru sering berada di persimpangan, ingin memberi waktu bagi siswa untuk memahami, tetapi terikat oleh tuntutan kurikulum dan administrasi. Akhirnya, proses belajar dipadatkan, diskusi dipercepat, dan kesalahan sebisa mungkin dihindari.

Di sinilah pendekatan humanistik menjadi penting. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Anak bukan mesin yang bisa dipacu tanpa henti. Mereka memiliki emosi, rasa ingin tahu, kebingungan, dan kelelahan. Ketika sekolah hanya menghargai kecepatan dan hasil, sisi kemanusiaan ini perlahan terpinggirkan.

Kurikulum Merdeka sebenarnya membawa harapan. Pembelajaran berbasis proyek dan diferensiasi memberi peluang bagi sekolah untuk menyesuaikan ritme belajar. Anak didorong belajar melalui pengalaman, bukan sekadar hafalan. Namun, dalam praktik, semangat ini kerap berbenturan dengan realitas. Tekanan capaian dan pelaporan membuat kebebasan belajar terasa semu.

Belajar pun berubah menjadi serangkaian tugas yang harus segera selesai. Proyek dikerjakan demi nilai, bukan pemahaman. Kesalahan dipandang sebagai kegagalan, bukan bagian alami dari proses belajar. Anak-anak menjadi cakap menyelesaikan tugas, tetapi kurang diberi ruang untuk merenung dan bertanya tentang makna.

Di sisi lain, percepatan pendidikan sering dibenarkan atas nama relevansi. Sekolah diharapkan menyiapkan peserta didik menghadapi dunia kerja dan tantangan masa depan. Keterampilan abad ke-21, literasi digital, dan daya saing menjadi kata kunci. Namun, relevansi tidak harus berarti tergesa-gesa. Justru kemampuan berpikir kritis, empati, dan refleksi tumbuh dari proses belajar yang memberi waktu.

Pendidikan yang terlalu cepat berisiko melahirkan generasi yang terampil secara teknis, tetapi rapuh secara batin. Mereka terbiasa memenuhi target, tetapi asing dengan proses memahami diri. Sekolah lalu menjadi tempat mengejar capaian, bukan ruang aman untuk bertumbuh.

Sekolah tidak perlu menolak kecepatan, tetapi harus bijak mengelolanya. Ada saatnya berlari, ada saatnya berjalan, dan ada saatnya berhenti sejenak. Jeda untuk berdialog, jeda untuk gagal, dan jeda untuk memahami. Dalam jeda itulah pendidikan menemukan kedalamannya.

Pada akhirnya, tantangan pendidikan di era cepat bukan soal seberapa sigap kita beradaptasi, melainkan seberapa manusiawi kita mendampingi anak-anak belajar. Kecepatan boleh menjadi alat, tetapi bukan tujuan. Tujuan pendidikan tetaplah pertumbuhan manusia secara utuh.

Sebab, anak-anak tidak akan mengingat seberapa cepat mereka menyelesaikan tugas. Mereka akan mengingat apakah sekolah pernah memberi ruang untuk merasa didengar, dipahami, dan dipercaya untuk bertumbuh dengan caranya sendiri.

Penulis : Dwiani Listya Kartika (Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Matematika, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....