MAPSI, Ketika Purbalingga Menjadi Panggung Spirit Islami

  • 19 Okt 2025 08:03 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Purbalingga : Kabupaten Purbalingga pada bulan Oktober 2025 menjadi pusat perhatian dunia pendidikan Islam di Jawa Tengah. Selama tiga hari, 17–19 Oktober 2025, wilayah yang dikenal dengan keramahan warganya ini menjadi tuan rumah Lomba Mata Pelajaran dan Seni Islami (MAPSI) SD Tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Kegiatan ini mempertemukan para pelajar terbaik dari berbagai kabupaten dan kota untuk menampilkan kemampuan mereka dalam bidang keislaman, seni, dan budaya religius.Namun di balik semarak perlombaan, terdapat makna yang jauh lebih dalam.

MAPSI bukan sekadar ajang kompetisi antarsiswa, melainkan ruang edukatif dan spiritual yang mencerminkan wajah pendidikan Islam Indonesia yang dinamis dan membumi. Dalam perspektif pendidikan Islam, kegiatan seperti MAPSI merupakan media untuk menanamkan nilai iman, ilmu, dan amal dalam satu kesatuan yang utuh (Nata, 2020).

MAPSI (Mata Pelajaran dan Seni Islami) lahir dari semangat untuk menjadikan pendidikan agama Islam tidak berhenti di ranah kognitif, tetapi menjangkau ranah afektif dan psikomotorik. Melalui lomba-lomba seperti tilawah, tahfidz, pidato, kaligrafi, cerdas cermat, dan seni rebana, siswa tidak hanya diuji pengetahuannya, tetapi juga dilatih rasa, sikap, dan keterampilan religiusnya.

Dalam kerangka teoritis pendidikan Islam, hal ini sejalan dengan konsep ta’dib yang digagas oleh Al-Attas (1993), yaitu pendidikan yang bertujuan membentuk manusia beradab (insan adabi), bukan sekadar berpengetahuan. MAPSI, dengan segala dinamikanya, merupakan bentuk praksis dari gagasan tersebut — bagaimana nilai adab, keindahan, dan spiritualitas dipelajari secara konkret melalui seni dan kompetisi yang mendidik.

Selain itu, MAPSI juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran sosial. Siswa dari berbagai daerah belajar untuk menghargai perbedaan, bekerja sama, dan berkompetisi secara sehat. Sebagaimana ditegaskan oleh Tilaar (2012), pendidikan yang bermakna harus melibatkan interaksi sosial yang membentuk karakter dan empati peserta didik.

MAPSI memberikan ruang itu secara alami, melalui interaksi antarsiswa, guru, dan pembimbing dari berbagai daerah.

Purbalingga: Spirit Lokal dalam Bingkai Islam Nusantara

Pelaksanaan MAPSI SD Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2025 di Purbalingga menghadirkan nuansa tersendiri. Sebagai kota yang memiliki tradisi keagamaan kuat dan masyarakat yang agamis, Purbalingga menjadi panggung spirit Islami yang hidup.

Semarak lomba diisi dengan iringan rebana, pawai taaruf, dan suasana religius yang mengakar dalam budaya lokal.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana Islam dan budaya lokal dapat berpadu harmonis. Konsep Islam Nusantara yang menekankan pada moderasi, toleransi, dan kebudayaan, menemukan bentuk nyatanya dalam kegiatan seperti MAPSI (Kemenag RI, 2023). Dalam konteks ini, Purbalingga tidak hanya menjadi lokasi, tetapi juga simbol — simbol keterpaduan antara nilai keislaman dan kearifan lokal.

Seni rebana, misalnya, bukan hanya penampilan hiburan, melainkan bentuk dakwah kultural yang menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Begitu pula lomba kaligrafi, yang bukan sekadar menggores huruf Arab indah, tetapi juga menanamkan kesabaran, keuletan, dan estetika spiritual pada diri peserta.

Dengan demikian, MAPSI di Purbalingga menjadi ajang “learning by doing.” Tempat peserta belajar agama melalui pengalaman langsung yang menyentuh hati, bukan sekadar hafalan di atas kertas.

Secara filosofis, MAPSI memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar kompetisi. Ia merupakan manifestasi dari pendidikan Islam yang integral, menggabungkan dimensi intelektual, spiritual, dan emosional.

Sebagaimana dinyatakan oleh Zuhairini (2019), tujuan akhir pendidikan Islam adalah menciptakan manusia yang seimbang antara dunia dan akhirat. Dalam konteks ini, ajang MAPSI membantu siswa memahami bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari trofi, tetapi juga dari nilai-nilai yang tertanam dalam prosesnya: kejujuran, kerja keras, kesabaran, dan rasa syukur.

Purbalingga menjadi tempat di mana nilai-nilai tersebut menemukan panggungnya. Dalam setiap lantunan tilawah, setiap goresan kaligrafi, dan setiap langkah rebana, tersimpan pesan spiritual yang mendalam: bahwa belajar agama bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang menjadi manusia yang berakhlak dan bermanfaat.

Refleksi atas Lomba MAPSI SD Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2025 di Kabupaten Purbalingga memberikan pelajaran penting tentang wajah pendidikan Islam yang hidup dan kontekstual. MAPSI bukan sekadar ajang prestasi, tetapi juga sarana menanamkan nilai-nilai Islam yang membumi dan menginspirasi.

Ketika Purbalingga menjadi panggung spirit Islami, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukan hanya keterampilan siswa, melainkan pembelajaran nilai dan adab yang menumbuhkan cahaya keislaman di hati generasi muda.

Dari Purbalingga, cahaya itu menyebar ke seluruh penjuru Jawa Tengah — membawa pesan bahwa pendidikan Islam sejati adalah pendidikan yang mencerdaskan akal, menyejukkan hati, dan menggerakkan amal.

Opini ditulis oleh Oleh: Priyanto (Ketua DPD AGPAII Kabupaten Purbalingga).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....