Ancaman Tersembunyi Petani Bawang Merah

  • 11 Okt 2025 08:50 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Banyumas: Pernahkan kita berfikir, kemana perginya air yang digunakan untuk mandi, mencuci, atau digunakan untuk aktifitas rumah tangga lainnya? Kembali ke tanah atau justru dialirkan begitu saja ke badan air?

Indonesia merupakan negara yang besar dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Namun pertumbuhan penduduk tidak diiringi dengan perbaikan atau pembangunan infrakstruktur yang mendukung hal tersebut terutama dalam hal keberlanjutan. Selama ini, masyarakat atau bahkan pemerintah cenderung mengesampingkan aspek lingkungan dalam pembangunan insfrastuktur.

Contohnya saja di pedesaan, masyarakat membuat rumah dengan sistem pembuangan air yang langsung dibuang ke sungai, perairan atau bahkan langsung ke dalam tanah dikarenakan ketidaktahuan dan tidak adanya upaya dari pemerintah untuk membuat sistem pengolahan air limbah secara komunal. Hal ini tentu saja dapat berbahaya bagi lingkungan jika terus menerus dilakukan karena dapat mencemari tanah maupun air.

Pencemaran tanah dan air, tidak hanya mempengaruhi ekosistem, tetapi juga sektor pertanian. Kita tidak tau berapa luas tanah dan volume air yang telah tercemar akibat pembuangan limbah cair rumah tangga yang sudah terjadi selama bertahun-tahun. Badan air yang telah tercemar oleh limbah rumah tangga mengandung zat kimia organik maupun anorganik. Padahal, air tersebut banyak dimanfaatkan oleh para petani untuk menyiram tanaman, salah satu contohnya adalah bawang merah.

Dari sisi valuasi, pencemaran air dapat menimbulkan kerugian dalam pertanian bawang merah. Hal ini disebabkan karena bawang merah membutuhkan kualitas tanah yang optimal dalam pertumbuhannya.

Apabila dalam proses penyiramannya berasal dari badan air yang tercemar, maka hal tersebut dapat menyebabkan stress osmotic dan pembusukan akar karena kandungan zat-zat berbahaya dalam pencemar seperti logam berat (Hg, Pb, Cd), detergen, dan zat organik berlebih. Stress osmotik dalam pertumbuhan bawang merah ditandai dengan hasil panen yang kerdil.

Selain berpengaruh pada tanaman bawang merah, pencemaran juga bisa menyebabkan tanah atau lahan menjadi tidak produktif. Karena hal tersebut, banyak petani yang mencoba memperbaiki hasil panen dengan cara menambah pupuk atau bahkan pestisida agar hasil panen menjadi maksimal.

Menurunnya kualitas hasil panen tentu saja sejalan dengan tergerusnya nilai jual bawang merah di pasaran serta meningkatnya biaya pertanian. Apabila masalah pencemaran ini tidak segera diatasi, maka mata pencaharian para petani bawang pun ikut terancam. Padahal, bawang merah menjadi salah satu penopang sekaligus penggerak roda perekonomian terutama di wilayah sentra pertanian seperti Demak, Brebes, Nganjuk dan Solok.

Sayangnya, masyarakat atau bahkan petani tidak menyadari potensi bahaya yang sedang mengintai dan intensitas pencemarannya akan terus bertambah setiap tahunnya seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Masalah pencemaran air ini bukanlah hal sederhana yang bisa diselesaikan begitu saja dan tidak bisa dicegah dengan jentikan jari. Apalagi jika berkaitan dengan masyarakat itu sendiri dan sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Perlu adanya pendampingan dan kesabaran untuk membimbing serta meningkatkan kesadaran masyarakat terutama petani bawang merah bahwa hama bukanlah satu-satunya musuh mereka, melainkan faktor lain yang dihasilkan oleh mereka sendiri.

Dari sudut ilmu lingkungan, ada beberapa opsi solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi mengenai permasalah pencemaran tersebut. Yang pertama, meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peduli terhadap lingkungan. Masyarakat mungkin selama ini tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan selama ini dapat membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Kedua, pemerintah bertindak tegas dalam melakukan pengawasan terhadap sistem pembuangan air limbah.

Dan yang terakhir, perlunya kolaborasi dari berbagai pihak terutama pemerintah untuk dapat membuat sistem pengelolaan air limbah di setiap desa sehingga seluruh limbah cair dari rumah ke rumah bisa diolah menjadi air bersih yang bisa dimanfaatkan kembali untuk mengairi lahan pertanian bawang merah.

(Opini Oleh: Yuniar Cahya Handini dan Rahab, Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....