Minat Gen Z Menjadi Petani

  • 26 Mar 2025 12:32 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Purwokerto : Kita cukup prihatin dengan minimnya minat gen Z menjadi petani. Ini tidak hanya di daerah tapi seluruh Indonesia Kalau di Indonesia hanya di bawah 5% kecenderungan generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.

Sebenarnya jika kita amati di pertanian pangan, khususnya padi, jagung, atau palawija memang jarang gen Z yang berperan. Tapi kalau di sisi hortikultura, buah, sayur, sudah banyak gen Z yang berperan. Termasuk petani ikan, pembudidaya ikan, dan peternak.

Kita apresiasi minat terhadap dunia pertanian di Banjaran cukup bagus, walaupun terpaksa menjadi petani. Menyimak dialog pagi yang menghadirkan petani gen Z dari Banjarnegara yang menjadi petani karena kondisi ekonomi keluarga dan orang tuanya petani. Petani Gen Z, Teguh Fajar menjadi petani karena terpaksa namun setelah menekuninya ia merasakan menjadi petani punya peluang besar menghasilkan cuan.

Kita mendorong Pemerintah untuk terus mensosialisasikan dan memberi edukasi pada gen z untuk mencoba menjadi petani. Apalagi saat ini pergerakan ekonomi didominasi dengan harganya tinggi seperti harga cabai, atau wortel, atau tomat, atau kentang.

Langkah-langkah yang bisa dilakukan supaya gen z mau berminat dalam berkecimpung ke dalam pertanian antara lain merubah mindset, pertanian itu tidak menjanjikan, stigma negatif bahwa pertanian itu tidak bisa menghasilkan karir, kurang bergengsi dan kotor.

Pertanian itu dari sisi manapun bisa meningkatkan, bisa sebagai investasi, bisa sebagai hal untuk kreatif, apabila dikolaborasi dengan wisata, dengan budaya, sehingga menjadi agro wisata yang saat ini diminati masyarakat.

Pertanian bukan hanya budidaya, hulu, tetapi juga hilir, ada produk-produk olahan pertanian yang nilai ekonominya tinggi. Untuk mengolahnya perlu generasi muda, yang pemasarannya perlu digitalisasi, perlu podcaster muda yang mengunggahnya di media sosial atau media digital lainnya. Petani dari Gen z tentu saja mereka bisa memanfaatkan market market place yang ada, mengelola digital marketing.

Gen z tidak harus menjadi petani tapi bisa membantu petani untuk pemasaran hasil pertanian. Menjadi Eksportir hasil pertanian apakah itu gula, kopi, buah buahan.

Ini bisa menepis stigma karier dibidang pertanian kurang menjanjikan. Perlu sinergitas yang solid semua pihak, pemerintah dan masyarakat.

Masalah klasik yang masih ada pada masyarakat adalah orang tua tidak menginginkan anaknya menjadi seorang petani. Jadi regenerasi ini akan mentok di situ.

Kita optimis saat ini perkembangan dunia pertanian sudah diimbangi dengan teknologi didukung oleh program-program dari pemerintah yang menggaungkan tentang petani milenial. Artinya dukungan dari pemerintah juga sangat berpengaruh.

Belum lagi perkembangan produk produk olahan dari bahan produk pertanian sangat diminati konsumen baik dalam dan luar negeri membutuhkan bahan baku pertanian yang tinggi. Ini sangat menjanjikan untuk menjadi profesi petani.

Gen z memahami tehnologi terobosan pasar yang diperlukan sehingga permasalahan pertanian bisa terselesaikan. Gen z punya lingkup sosial yang tak berbatas dengan media sosialnya.

Dengan adanya gen z yang menguasai digitalisasi tidak terjadi lagi hasil panen yang tidak laku, busuk di lapangan, dibiarkan di lapangan karena harga terlalu murah, biaya panen terlalu lebih tinggi daripada harga jualnya sehingga dibiarkan busuk di lapangan. Gen z bisa memanfaatkan media untuk mengatasinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....