Kemenparekraf Dukung Tarian Tradisional Sebagai Sarana Promosi Wisata

  • 26 Agt 2024 06:15 WIB
  •  Purwokerto

KBRN, Slawi : Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia ( Kemenparekraf RI) berkolaborasi dengan Komisi X, dan Dinas Porapar Kabupaten Tegal menggelar pentas seni tradisional yang bertajuk BISA FEST, dengan Tema " Pesona Warisan Budaya, Merajut Tradisi Kesenian Tradisional."

Pentas seni tradisional budaya Kabupaten Tegal, BISA FEST digelar di panggung terbuka Limited Coffe dan Eatery, Jalan Moh Yamin, Slawi, Jum'at (23/8/2024).

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendukung penggunaan tarian tradisional sebagai sarana untuk mempromosikan budaya Indonesia di kancah internasional, karena hal itu bisa berdampak pada sektor pariwisata.

“Tarian tradisional sangat berhubungan dengan seni pertunjukan dan budaya, juga erat kaitannya dengan pariwisata,” ucap Analis Kebijakan Ahli Muda, Arya Galih Aninditia.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, khususnya pada seni tari. Produk kesenian ini perlu dimanfaatkan sebagai alat promosi wisata.

Dengan pengelolaan profesional, kata dia, seni tari tradisional yang dipentaskan dapat menarik minat wisatawan mancanegara untuk datang dan berwisata ke Indonesia.

Atas dasar tersebut, Kemenparekraf bersama seluruh pemangku kepentingan lainnya telah berkolaborasi untuk mendukung sekaligus memberikan nilai tambah pada seni tari tradisional yang ada di daerah.

“Kami dari Kemenparekraf berkolaborasi memberikan dukungan dan fasilitasi untuk memberikan nilai tambah pada seni tari. Indonesia bisa mengenalkan budaya di dunia luar, tetapi dengan kualitas yang bagus."

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih mengemukakan, mengapresiasi terselenggaranya pentas seni tradisional BISA FEST di Kabupaten Tegal, kegiatan ini untuk memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif ,sekaligus melestarikan kesenian budaya serta religi di Kabupaten Tegal.

" Karena Budaya kesenian tradisional harus dibarengi dengan inovasi baru, karena tanpa adanya inovasi maka tampilannya tetap dan tidak bisa berkembang."

Saya yakin dalam pengembangan kesenian budaya selalu ada kendala, baik pro dan kontra terutama dalam berinovasi budaya, hal tersebut bisa disikapi jangan sampai pertujukan seni budaya, menjadikan salah bencana namun seni budaya, tetap harus di tunjukan segi positif," ujar Fikri.

Sementara itu Kepala Dinas Porapar Kabupaten Tegal, Ahmad Uwes Qowroni menjelaskan, BISA FEST sendiri merupakan sebuah upaya yang luar biasa, dalam meningkatkan SDM pelaku budaya melalui penampilan sebuah pentas seni, khusus seni budaya tradisional Kabupaten Tegal, yakni seni kuntulan.

Uwes berharap BISA FEST akan bisa meningkatkan potensi budaya lainnya yang ada di wilayah Kabupaten Tegal, disamping untuk pelaku seni kuntulan bisa dilakukan oleh generasi muda, karena sejauh ini pelaku seni kuntulan yang ada di desa desa sebagian besar sudah lanjut usia.

"Untuk potensi seni budaya di Kabupaten Tegal bisa dikembangkan lagi, apalagi karena hampir di 282 desa dan 6 kelurahan masih ada kendala. Adanya dukungan dari Kemenparekraf mudah mudahan bisa diatasi kendala tersebut, Karena seni budaya kuntulan merupakan salah satu potensi warisan budaya di Kabupaten Tegal," ujar Uwes Qowroni Kepada RRI Purwokerto, Minggu (25/8/2024).

Salah satu penggiat seni budaya Wahyu Nugroho Wiji menyatakan, dalam pentas seni budaya tradisional yang di kemas dalam BISA FEST, juga menampilkan kesenian tradisional khas Kabupaten Tegal, diantaranya Kuntulan, tari topeng endel, dan tarian nusantara dari berbagai sanggar tari.

Diharapkan dengan BISA FEST seni budaya tradisional persembahan dari Kemenparekraf, akan bisa meningkatkan potensi budaya di Kabupaten Tegal, dan selaku penggiat seni budaya mendukung Dinas Porapar yang menyediakan lokasi untuk pentas seni tradisional, di TRASA ,Monumen GBN, maupun Alun Alun Hanggawana Slawi," pungkas Wahyu.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....