Diskusi Publik “Dafest” Dorong Generasi Muda Perkuat Ekosistem Digital yang Sehat

  • 05 Okt 2026 16:02 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Dakwah UIN SAIZU Purwokerto menggelar diskusi publik dalam rangka Opening Ceremony Dakwah Anniversary Festival (Dafest) dengan tema “Penguatan Ekosistem Digital yang Sehat: Peran Komunikasi Publik Generasi Muda Indonesia”. Kegiatan berlangsung di Auditorium Utama Kampus 1 UIN Saizu Purwokerto pada, Senin (5/10/2026).

Diskusi tersebut mendorong generasi muda, khusunya Gen Z untuk berperan aktif menciptakan ruang digital yang sehat dengan mengedepankan etika dan kemampuan berpikir kritis dalam berkomunikasi di media sosial.

Dosen UIN Saizu Purwokerto Edi Santoso mengatakan, penetrasi internet dikalangan generasi Z saat ini telah mencapai hampir 90 persen. Namun, tingkat literasi digital masih berada pada kategori sedang dengan skor sekitar 3,4 dari 5.

“Rendahnya literasi digital, khusunya pada aspek keamanan digital membuat mereka rentan terhadap berbagai persoalan seperti disinformasi, ujaran kebencian, pencurian data, pelanggaran privasi hingga perundungan digital,” ujar Edi.

Menurut Edy, penguatan ekosistem digital yang sehat dapat dimulai dari kesadaran etis setiap individu. Pengguna media sosial perlu memahami bahwa setiap aktivitas di ruang digital memiliki konsekuensi dan dapat memberikan dampak terhadap orang lain.

Ia menghimbau generasi muda untuk memastikan kebenaran informasi sebelum membagikan konten, serta mempertimbangkan dampak positif maupun negatif dari unggahan yang dibuat.

Sementara itu, moderator acara M. Rifqi Atsani mengatakan, saat ini generasi muda khususnya Generasi Z, memiliki kecenderungan kritis dan aktif dalam menyampaikan tanggapan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat, baik melalui ruang digital maupun secara langsung.

Namun, penggunaan bahasa yang kurang santun masih menjadi salah satu tantangan dalam komunikasi di media sosial. Menurutnya, edukasi mengenai etika dan tata bahasa dalam berkomunikasi di ruang digital perlu terus dilakukan.

“Terdapat tantangan penggunaan bahasa yang kurang sopan di media sosial yang terbawa dari kebiasaan di kehidupan nyata, sehingga memerlukan edukasi mengenai tata bahasa dan etiket digital,” tutur Rifqi.

Rifqi menilai, kemampuan generasi muda dalam berkomunikasi secara kritis serta bertanggung jawab menjadi bagian penting dalam mewujudkan ruang digital yang kondusif serta mendukung cita-cita generasi emas Indonesia 2045. (Fina).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....