Silent Pandemic: Bahaya Resistensi Antibiotik

  • 05 Okt 2026 07:10 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto- Praktik penyalahgunaan antibiotik di masyarakat kini telah menjadi ancaman serius yang memicu fenomena silent pandemic atau pandemi senyap di sektor kesehatan. Peringatan bahaya laten ini mengemuka dengan tajam dalam dialog interaktif "Indonesia Sehat" di Pro1 RRI Purwokerto Jumat 2 Oktober 2026, menyikapi kebiasaan masyarakat yang sering mengonsumsi obat keras tersebut tanpa panduan medis yang tepat.

Munculnya resistensi antimikroba atau kekebalan bakteri terhadap antibiotik berakar dari rendahnya literasi kesehatan di tingkat akar rumput. Sebagian besar masyarakat masih memiliki pandangan yang salah kaprah dengan menganggap antibiotik sebagai jamu pelepas lelah atau obat dewa pembasmi segala penyakit ringan, seperti batuk dan pilek yang sebenarnya disebabkan oleh virus.

Albert Christi, Apoteker dari BBPOM Banyumas, mengatakan, fakta mengerikan mengenai dampak fatal jangka panjang dari resistensi antibiotik ini. Ia menjelaskan bahwa ketika bakteri di dalam tubuh sudah kebal akibat konsumsi obat yang serampangan, infeksi dapat dengan cepat menyebar dan merusak tubuh. " katamya.

Ironisnya, ancaman mematikan ini justru diperparah oleh masih mudahnya akses masyarakat dalam mendapatkan obat keras secara ilegal di lingkungan sekitar. Pihak BBPOM Banyumas kerap menemukan antibiotik yang dijual bebas tanpa resep dokter di toko kelontong atau warung-warung desa akibat adanya penyimpangan dari rantai pasok resmi farmasi. Temuan ini secara jelas menunjukkan masih adanya celah pengawasan distribusi obat dari hulu ke hilir yang dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab demi meraup keuntungan.

Menghadapi situasi kritis tersebut, Samsul Hidayat dari Dinkes PPKB Purbalingga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dan disiplin dalam menggunakan obat. Ia menekankan bahwa edukasi harus terus digencarkan agar masyarakat senantiasa berkonsultasi dengan tenaga medis, tidak berbagi sisa obat, serta selalu menghabiskan resep antibiotik sesuai jadwal guna memutus rantai resistensi kuman yang berpotensi memakan banyak korban jiwa. (Faiq)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....