GP Ansor Ajibarang Padukan Filsafat dan Tasawuf dalam Coaching

  • 22 Sep 2026 16:13 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas – Semangat “aksi dan edukasi” menjadi salah satu alasan GP Ansor Ajibarang menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Coaching Membangun Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf, Senin (21/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Embung Kanoman, Ajibarang, Banyumas, pukul 09.00–13.00 WIB, tersebut diikuti para kepala sekolah Ma’arif, guru, dan aktivis GP Ansor Ajibarang.

Semangat “Aksi dan Edukasi”

Ketua Panitia, Kukuh Rustiadi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kehadiran GP Ansor Ajibarang untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya dalam mendampingi generasi muda.

“Sesuai visi Ketua GP Ansor Ajibarang Sahabat Muhammad Ridwan bahwa jargon Ansor Ajibarang adalah aksi dan edukasi. Inilah saatnya Ansor Ajibarang hadir untuk mengedukasi.”

Menurutnya, semangat tersebut menjadi salah satu dasar dilaksanakannya ToT yang mempertemukan unsur kepemudaan, pendidikan, dan keagamaan dalam upaya mendampingi generasi muda.

Berangkat dari Keprihatinan terhadap Generasi Muda

Ketua MWC Ma’arif NU Ajibarang kemudian memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan. Ia menyampaikan bahwa ToT tersebut diselenggarakan sebagai bentuk keprihatinan atas “prestasi yang kurang baik” yang dilekatkan kepada anak-anak muda Ajibarang.

“ToT ini diselenggarakan sebagai bentuk keprihatinan atas ‘prestasi yang kurang baik’ yang dilekatkan pada anak-anak muda Ajibarang. LP Ma’arif yang bergerak di dunia pendidikan dan keagamaan mengambil inisiatif untuk berkontribusi mencegah dan mengedukasi anak-anak muda agar tidak terjerumus ke dalam berbagai persoalan,” ujar Slamet Ibnu Ansori, Ketua MWC NU Ajibarang.

Menurutnya, dunia pendidikan dan keagamaan perlu mengambil bagian dalam upaya pencegahan dan edukasi agar persoalan generasi muda tidak hanya dihadapi setelah terjadi.

Menggali Kekuatan Tradisi Keagamaan

Kepala LP2M UNUGHA Cilacap, Fahrur Rozi, M.Hum., turut memberikan sambutan sekaligus menjadi trainer dalam kegiatan tersebut.

Fahrur menjelaskan bahwa Al-Fatihah, Al-Qur’an, Asmaul Husna, dan hati nurani dapat menjadi bagian dari proses refleksi dalam mencari solusi atas berbagai persoalan kehidupan.

“Para ulama, guru-guru, dan orang tua kita, dalam tradisi NU telah mengajarkan dan mempraktikkan bahwa Al-Fatihah, Al-Qur’an, Asmaul Husna, dan hati nurani bisa dijadikan solusi atas berbagai masalah kehidupan kita.”

Fahrur juga mencontohkan berbagai praktik keagamaan di masyarakat yang menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Pendekatan tersebut kemudian dipraktikkan melalui Jurus Empat Langkah Coaching Jiwa Merdeka, yang memadukan munajat dan muhasabah melalui Al-Fatihah, refleksi Al-Qur’an, Asmaul Husna, serta dialog dengan hati nurani.

Coaching, Bukan Sekadar Memberi Nasihat

Dosen Fakultas Filsafat UGM, Dr. Heri Santoso, M.Hum., memberikan materi mengenai Coaching Membangun Jiwa Merdeka Berbasis Filsafat dan Tasawuf.

Heri mengajak peserta memahami bahwa pendampingan terhadap generasi muda tidak cukup dilakukan dengan memberikan nasihat. Pendamping perlu membantu seseorang mengenali persoalan, menemukan akar masalah, dan menemukan jalan keluarnya.

Pelatihan berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak mempraktikkan dan merasakan proses coaching melalui permainan, kuis, refleksi, dan umpan balik.

Pendekatan ini diharapkan dapat membantu guru dan aktivis mendampingi generasi muda secara lebih dialogis, dengan terlebih dahulu memahami persoalan dan kondisi dirinya.

Sebelum Membantu Siswa, Mengelola Diri

Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa ToT memberikan pengalaman reflektif bagi dirinya. Setelah mengikuti kegiatan, ia merasa lebih lega, tenang, dan mampu melihat kembali apa yang telah dimilikinya.

“Alhamdulillah, setelah mengikuti ToT hari ini saya lebih merasa lega, tenang, dan merasa cukup dengan segala hal yang saya miliki hari ini. Walaupun di balik semua masalah pribadi kami masing-masing, setidaknya sebelum kita membantu siswa untuk menyelesaikan masalah, alangkah lebih baik diri kita yang lebih dulu mengelola semua permasalahan dengan baik agar nantinya dapat mendampingi siswa dengan lebih optimal dan tentunya semua hal dimudahkan oleh Allah SWT.”

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses pendampingan tidak hanya dimulai dari kemampuan memahami persoalan orang lain, tetapi juga dari kemampuan pendamping mengenali dan mengelola dirinya sendiri.

Kolaborasi

Kegiatan tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi GP Ansor Ajibarang, LP Ma’arif Ajibarang, LP2M Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap, dan Tim Pengabdian Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Rais Syuriah NU Ajibarang KH. K.H. Zulfa Mohamad Nur dan Ketua Tanfidziyah NU Ajibarang KH. Slamet Ibnu Ansori, Ketua LP Ma’arif Ajibarang H. Hartoyo, serta Pengurus PAC GP Ansor Ajibarang.

Melalui kegiatan tersebut, semangat aksi dan edukasi GP Ansor dipertemukan dengan kekuatan pendidikan, tradisi keagamaan, dan pendekatan coaching untuk memperkuat pendampingan terhadap generasi muda.

Dari keprihatinan, lahir aksi. Dari aksi, lahir edukasi. Dan dari edukasi, diharapkan tumbuh pendampingan bagi generasi muda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....