Rangkaian Hari Anak Nasional, Doland Festival Dorong Anak Aktif di Dunia Nyata

  • 18 Sep 2026 15:44 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas – Di tengah semakin lekatnya anak-anak dengan gawai, permainan tradisional kembali dihadirkan sebagai ruang bermain sekaligus belajar bagi anak-anak di Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas.

Melalui Doland Festival yang digelar Unit Mino Martani Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS), anak-anak diajak meninggalkan sejenak layar gawai dan menikmati permainan di dunia nyata. Kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan Hari Anak Nasional (HAN), Jumat (18/9/2026).

Kepala Unit Mino Martani YSBS, Lisa Indah Prasetyanti, mengatakan Desa Cindaga dipilih karena merupakan salah satu desa dampingan YSBS sejak 2022. Sebagai lembaga yang fokus pada perlindungan anak, perayaan HAN menjadi momentum untuk menghadirkan ruang yang lebih luas bagi anak untuk bermain, berekspresi, sekaligus menyampaikan aspirasinya.

“Kenapa Dolan Festival? Karena saat ini kita sama-sama tahu bahwa anak-anak itu lebih banyak hidup dengan gadget mereka. Mereka lupa keasyikan bermain di luar,” kata Lisa.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak dikenalkan kembali dengan berbagai permainan tradisional, seperti congklak, gasing, bekel, dan egrang. Selain permainan, kegiatan juga diisi dengan dongeng yang disampaikan penggiat dongeng Muhammad Busro sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi anak.

Lisa mengatakan permainan tradisional bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang. Melalui permainan tersebut, anak-anak mendapatkan ruang untuk berinteraksi dan mengekspresikan diri.

“Yang terlebih adalah, kami ingin memberikan ruang buat anak-anak bermain, ruang kepada anak-anak untuk menyampaikan aspirasi mereka, dan ruang kepada anak-anak untuk memilih apa yang mereka mau,” ujarnya.

Perwakilan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah, Ardian Agil Waskito, mengapresiasi pelaksanaan Dolan Festival. Menurutnya, bermain merupakan bagian dari hak anak yang perlu dipenuhi.

Ia menilai permainan tradisional memiliki banyak nilai yang dapat membantu pembentukan karakter anak. Anak dapat belajar bekerja sama, menghargai orang lain, menerima kekalahan, serta menyikapi kemenangan tanpa menjadi sombong.

“Jadi memang ini sangat strategis bagi anak-anak untuk kemudian mereka belajar lagi untuk bermain di dunia nyata. Mereka dikenalkan lagi permainan tradisional yang secara nilai, secara filosofi itu bagus sekali untuk anak-anak,” kata Ardian.

Ardian menambahkan, peringatan Hari Anak Nasional tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial. Momentum tersebut juga menjadi pengingat bahwa anak memiliki sejumlah hak, termasuk hak tumbuh kembang, pendidikan, kesehatan, bermain, serta menyampaikan pendapat dan pandangan.

Menurutnya, kegiatan yang menghadirkan ruang bermain dan mendengarkan suara anak dapat dilakukan sepanjang tahun. Dengan demikian, orang dewasa kembali diingatkan untuk memenuhi hak anak sekaligus melindungi mereka dari berbagai bentuk kekerasan.

Sebagai Lembaga Kesejahteraan Sosial, Mino Martani juga menjalankan program perlindungan anak yang mencakup pengasuhan, pengembangan remaja dan keterampilan nonteknis, edukasi kebencanaan, serta penyiapan mekanisme pengaduan ketika terjadi pelanggaran hak anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....