Pokdarwis Wisanggeni Pekunden Olah Buah Naga Jadi Teh hingga Es Krim

  • 05 Sep 2026 21:42 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas – Warga Desa Pekunden, Kecamatan Banyumas, mulai mengembangkan buah naga menjadi sejumlah produk olahan. Inovasi tersebut dilakukan bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wisanggeni melalui pendampingan tim dosen Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

Produk yang dikembangkan tidak hanya memanfaatkan daging buah, tetapi juga bagian lain dari buah naga. Di antaranya teh celup berbahan kulit buah naga, dodol, stik, dan es krim.

Pendampingan tersebut berlangsung selama dua hari melalui program “Peningkatan Kapasitas Pokdarwis Pekunden Berbasis Diversifikasi Produk Wisata dalam Upaya Penguatan Ekonomi Lokal”.

Ketua Tim Pengabdian UMP, Muhammad Amir Biky, mengatakan diversifikasi dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah buah naga yang selama ini menjadi salah satu komoditas Desa Pekunden.

“Inovasi yang kami hadirkan difokuskan pada optimalisasi komoditas unggulan desa, yaitu buah naga. Kami mendampingi masyarakat dan Pokdarwis Wisanggeni dalam mengolah dan mengemas produk turunan berupa teh celup buah naga, dodol buah naga, stik buah naga, dan es krim buah naga,” ujar Biky.

Menurutnya, pengembangan produk olahan dapat menjadi alternatif selain menjual buah naga dalam kondisi segar. Pengolahan, kemasan, dan pemasaran menjadi bagian yang turut diperkenalkan dalam pendampingan tersebut.

“Langkah ini diharapkan dapat memperkuat daya tarik wisata sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal secara mandiri,” ujarnya.

Kegiatan yang dibuka Kepala Desa Pekunden, Suranto, itu juga melibatkan mahasiswa KKN Tematik UMP. Pendampingan diberikan mulai dari pengembangan produk hingga pemasaran.

Pada hari pertama, peserta mendapat materi mengenai diversifikasi produk, kemasan, legalitas, dan pemanfaatan e-commerce. Setelah itu, mereka mempraktikkan pembuatan empat produk olahan buah naga.

Peserta belajar mengolah kulit buah naga menjadi bahan teh celup, membuat dodol, memproduksi stik, serta mengolah buah naga menjadi es krim.

Hari kedua difokuskan pada proses pengemasan. Peserta mendapat pemahaman mengenai pentingnya kemasan yang bersih, rapi, dan menarik agar produk lebih siap dipasarkan.

Salah seorang peserta sekaligus pelaku UMKM Desa Pekunden, Saminah, mengatakan pelatihan tersebut memberinya alternatif produk yang dapat dijual sebagai oleh-oleh.

“Senang ikut pelatihan ini karena dapat banyak ilmu baru. Insyaallah ke depannya produk olahan buah naga ini mau saya tambah ke jualan saya, biar pilihan oleh-oleh buat pengunjung makin banyak,” tuturnya.

Ketua Pokdarwis Pekunden, Rudi Pamungkas, mengatakan produk olahan tersebut dapat menambah variasi oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Pekunden.

“Kami sangat berterima kasih atas ilmu dan pelatihan praktis yang diberikan oleh tim dosen UMP. Pelatihan pembuatan teh celup, dodol, stik dan es krim buah naga ini sangat aplikatif dan menjadi inovasi baru bagi kami dalam mengembangkan variasi oleh-oleh khas Desa Wisata Pekunden,” katanya.

Pengolahan buah naga juga dinilai dapat menjadi alternatif ketika tanaman tidak sedang memasuki masa panen. Dengan demikian, komoditas tersebut tetap dapat dimanfaatkan dalam bentuk produk olahan.

Produk hasil pelatihan itu kemudian diperkenalkan kepada wisatawan asal Jepang yang berkunjung ke kebun buah naga Pekunden. Salah seorang wisatawan, Hatoro (70), memberikan respons positif setelah mencicipi produk tersebut.

Ia menilai pengolahan buah naga menjadi berbagai produk dapat menjadi bagian dari pengembangan daya tarik wisata, terutama karena buah naga tidak berproduksi sepanjang tahun.

Program pendampingan tersebut melibatkan dosen dari sejumlah bidang keilmuan, Pemerintah Desa Pekunden, Pokdarwis Wisanggeni, pelaku UMKM, masyarakat, serta mahasiswa KKN Tematik UMP. Pendampingan diarahkan tidak hanya pada produksi, tetapi juga pengemasan dan pemasaran produk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....