Rutin Cek Tekanan Ban, Perjalanan Lebih Aman
- 24 Agt 2026 11:40 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID- Purwokerto Tekanan angin ban menjadi salah satu hal yang kerap luput diperiksa sebelum mobil digunakan, terutama ketika kendaraan akan dipakai bepergian jauh dengan membawa banyak penumpang dan barang. Padahal, bertambahnya beban kendaraan membuat ban bekerja lebih berat. Karena itu, memastikan tekanan angin sesuai kondisi kendaraan menjadi bagian penting untuk menjaga keselamatan, kenyamanan, sekaligus memperpanjang usia ban.
Pada kondisi normal, tekanan ban yang direkomendasikan pabrikan sudah disesuaikan dengan bobot kendaraan dan penggunaan sehari-hari. Namun, ketika seluruh kursi terisi penumpang dan bagasi dipenuhi barang, tekanan ban dapat perlu disesuaikan. Ban yang kekurangan tekanan akan mengalami kelenturan lebih besar saat berputar.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam perjalanan jauh, panas pada ban dapat meningkat dan risiko kerusakan pun ikut bertambah. Service Advisor Toyota Nasmoco Purbalingga, Estu Kurniawan, mengatakan pengemudi sebaiknya tidak menentukan tekanan ban hanya berdasarkan perkiraan.
Acuan utama tetap rekomendasi dari pabrikan kendaraan yang biasanya tercantum pada bagian pintu pengemudi atau buku manual. “Tekanan ban sebaiknya mengikuti rekomendasi pabrikan. Biasanya sudah ada keterangan untuk kondisi normal dan full load. Jadi ketika kendaraan membawa penumpang dan barang lebih banyak, pengemudi bisa menyesuaikan dengan angka yang sudah ditentukan,” ujar Estu.
Jangan Asal Tambah Angin
Dalam kondisi tertentu, tekanan ban memang dapat dinaikkan ketika kendaraan membawa muatan penuh. Namun, penambahannya tidak bisa disamaratakan untuk semua jenis mobil. Sebagai gambaran, jika tekanan normal berada di kisaran 30–32 PSI, penyesuaian saat full load dapat berada beberapa PSI lebih tinggi, tergantung spesifikasi kendaraan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
- Cek rekomendasi pabrikan terlebih dahulu, terutama keterangan tekanan untuk kondisi full load.
- Tekanan dapat dinaikkan sekitar 2–4 PSI dari kondisi normal pada kendaraan tertentu, tetapi tetap mengikuti rekomendasi pabrikan.
- Ban belakang bisa memiliki tekanan lebih tinggi karena beban kendaraan sering lebih besar di bagian belakang.
- Jangan menggunakan angka “MAX PRESSURE” di dinding ban sebagai tekanan harian. Angka tersebut merupakan batas maksimum kemampuan ban.
- Periksa tekanan saat ban dingin, idealnya sebelum kendaraan digunakan atau setelah mobil berhenti selama beberapa jam.
Menurut Estu, jenis kendaraan juga menjadi pertimbangan. City car, hatchback, MPV, SUV hingga kendaraan niaga memiliki karakter dan kapasitas angkut yang berbeda. Karena itu, tekanan ban pada satu kendaraan tidak bisa dijadikan patokan untuk kendaraan lainnya.
“Jangan menyamakan tekanan ban hanya karena ukuran bannya terlihat sama. Setiap kendaraan punya rekomendasi masing-masing. Yang paling aman adalah melihat informasi yang diberikan pabrikan untuk kendaraan tersebut,” kata Estu.
Apa Risikonya Jika Tekanan Tidak Sesuai?
Tekanan ban yang tidak tepat dapat memberikan dampak langsung terhadap kendaraan, terlebih ketika digunakan membawa muatan penuh. Beberapa risiko yang perlu diperhatikan meliputi:
- Ban lebih cepat panas, terutama ketika tekanan terlalu rendah dan mobil digunakan dalam perjalanan panjang.
- Keausan ban tidak merata, dengan bagian sisi atau bahu ban dapat lebih cepat terkikis.
- Konsumsi bahan bakar meningkat karena hambatan gulir ban menjadi lebih besar.
- Handling kendaraan berubah, sehingga mobil bisa terasa lebih berat, limbung, atau kurang responsif.
- Risiko kerusakan ban meningkat ketika kendaraan membawa beban berat dalam jarak jauh dan kecepatan tinggi.
Sebaliknya, mengisi angin terlalu tinggi juga bukan solusi. Ban yang terlalu keras dapat mengurangi kenyamanan dan mengubah bidang kontak ban dengan permukaan jalan. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat memengaruhi daya cengkeram dan respons kendaraan.
Kesalahan lain yang masih sering dilakukan pengemudi adalah menggunakan satu angka tekanan untuk semua kondisi. Ban diisi dengan tekanan yang sama ketika mobil kosong maupun ketika seluruh kursi terisi penumpang dan bagasi penuh. Padahal, perubahan beban kendaraan seharusnya menjadi pertimbangan dalam memastikan tekanan ban tetap sesuai.
Selain itu, pemeriksaan menggunakan alat ukur ketika ban baru saja digunakan juga perlu dihindari. Temperatur ban yang meningkat selama perjalanan membuat tekanan di dalam ban ikut naik. Jika pengemudi langsung menjadikan angka tersebut sebagai patokan, hasil pengukuran bisa tidak menggambarkan tekanan ban dalam kondisi dingin.
Persiapan Sebelum Perjalanan Jauh
Memeriksa tekanan ban sebenarnya tidak membutuhkan waktu lama, tetapi manfaatnya cukup besar. Terlebih sebelum perjalanan jauh dengan membawa banyak penumpang dan barang, pengemudi sebaiknya memastikan seluruh ban berada pada tekanan yang direkomendasikan. Estu menyarankan agar pemeriksaan tidak hanya dilakukan ketika ban terlihat kempis.
“Jangan menunggu ban terasa kempes baru diperiksa. Sebelum perjalanan jauh, apalagi kalau membawa banyak penumpang dan barang, lebih baik tekanan ban dicek terlebih dahulu supaya kendaraan tetap nyaman dan aman selama perjalanan,” tuturnya.
Dengan demikian, tidak ada satu angka tekanan ban yang berlaku untuk seluruh mobil. Jenis kendaraan, beban yang dibawa, distribusi muatan, serta rekomendasi pabrikan menjadi dasar dalam menentukan tekanan yang tepat.
Prinsipnya sederhana, tekanan ban harus sesuai rekomendasi, disesuaikan dengan kondisi muatan, dan tidak melebihi batas kemampuan ban. Langkah sederhana seperti mengecek tekanan ban sebelum berangkat dapat menjadi bagian penting dari keselamatan berkendara.
Sebab, ketika perjalanan dilakukan dengan muatan penuh, kondisi ban bukan hanya menentukan kenyamanan perjalanan, tetapi juga berperan langsung dalam menjaga kendali kendaraan tetap optimal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....