BI Purwokerto Dorong Takmir Masjid Optimalkan Pengelolaan Ziswaf Digital

  • 11 Agt 2026 13:48 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Bank Indonesia (BI) Purwokerto terus mengakselerasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Melalui rangkaian Road to SELARAS × Festival Literasi, BI Purwokerto menggelar Workshop bertajuk “Memakmurkan Masjid melalui Digitalisasi dan Optimalisasi Pengelolaan Ziswaf” yang berlangsung di Aula PDM Masjid 17 Purwokerto, Selasa (11/8/2026).

Workshop ini dihadiri oleh puluhan pengurus dan takmir masjid dari berbagai wilayah di Banyumas dan sekitarnya. Fokus utama kegiatan adalah mendorong masjid agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan juga sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat berbasis digital.

Dalam era modern saat ini, penguatan akuntabilitas dan efisiensi dalam pengelolaan Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (Ziswaf) menjadi kunci utama untuk meningkatkan kepercayaan jemaah. Salah satu langkah konkrit yang didorong adalah penerapan transaksi nirsentuh (cashless) melalui kanal digital seperti Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Melalui integrasi sistem digital, jemaah maupun masyarakat dapat menyalurkan donasi maupun kewajiban Ziswaf secara lebih mudah, cepat, dan transparan, kapan saja dan di mana saja. Ustadz Khusnadi Ikhwani M.M, ketua Takmir Masjid Raya Al Falah Sragen, sebagai pemateri pada kegiatan workshop ini sekaligus Penulis buku Strategi Memakmurkan Masjid.

Memaparkan best practice dalam mengubah pengelolaan masjid konvensional menjadi pengelolaan yang transparan dan digital. Dengan pengelolaan Ziswaf digital, minat dan penerimaan dana di masjidnya dapat meningkat dengan drastis.

"Dari yang dulunya hanya Rp6 juta, meningkat pesat menjadi Rp700 juta. Itu kenaikannya sangat signifikan," ujar Ustadz Kusnadi.

Selain digitalisasi pembayaran, Ustadz Kusnadi menekankan bahwa resep utama memakmurkan masjid diawali dari pembenahan internal dan kemampuan merangkul generasi muda. Untuk menciptakan dan dapat mengikuti perkembangan zaman.

Di sisi lain, perwakilan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Banyumas menyambut baik edukasi digitalisasi ini, meski mengakui adanya tantangan di tingkat akar rumput. Faktor Sumber Daya Manusia (SDM) dan kebiasaan masyarakat pedesaan masih menjadi PR bersama.

"Ini problem SDM dan tradisi yang tidak mudah untuk diubah begitu saja dari yang biasanya pakai kotak amal manual. Ditambah lagi faktor psikologis masyarakat desa yang lebih suka bersedekah secara langsung ketimbang pakai QRIS," ungkap perwakilan DMI Banyumas.

Melalui sinergi antara BI Purwokerto, DMI, dan lembaga amil zakat (Baznas, Lazismu, Lazisnu, Lazis Al-Irsyad), diharapkan pelatihan bertahap ini mampu mengikis hambatan tersebut sehingga masjid-masjid di Banyumas siap bertransformasi menuju era digital. (Girinda Fatihu Risqi)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....