Alih Fungsi Sawah Ancam Penggilingan Padi Kedung Banteng

  • 02 Agt 2026 15:21 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Musim kemarau 2026 bukan ancaman utama bagi penggilingan padi di Kecamatan Kedung Banteng, Banyumas. Kuat, buruh harian setempat, menyebut penyempitan sawah sebagai masalah sebenarnya.

Musim kemarau tidak banyak mengganggu operasional gilingan secara langsung. Masalah utama justru datang dari alih fungsi lahan sawah menjadi pemukiman dan kolam.

“Musim kemarau ini tidak begitu berpengaruh bagi kami. Namun sawah makin sempit dibikin rumah dan kolam, sehingga hasil panen berkurang,” kata Kuat.

Perubahan fungsi lahan ini berlangsung secara bertahap di sekitar wilayah tersebut. Setiap sawah yang beralih fungsi langsung mengurangi pasokan gabah ke penggilingan.

Harga gabah kering panen belum ditetapkan pada musim ini. Sementara itu, beras jenis IR64 dijual seharga Rp13.500 per kilogram.

Varietas pandan wangi sudah tidak lagi beredar di penggilingan tersebut. Hal itu terjadi karena petani semakin jarang menanam varietas tersebut.

Rendemen gabah menjadi beras sangat bergantung pada kualitas bahan baku. Gabah berkualitas rendah menghasilkan beras lebih sedikit meski biaya produksi tetap.

“Gabah kering seratus kilogram biasanya menghasilkan enam puluh sampai enam puluh lima persen beras. Kalau gabahnya kotor, hasilnya cuma empat puluh sampai lima puluh persen,” ujar Kuat.

Penurunan volume gilingan ikut mengubah pola kerja buruh harian. Sistem kerja borongan yang dulu berlaku kini berubah menjadi kerja serabutan.

Perubahan fungsi lahan menjadi faktor penentu masa depan penggilingan padi. Tantangan ini mengancam keberlangsung usaha penggilingan padi skala kecil di daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....