PLN EPI Terapkan Teknologi IoT di Rumah Bibit Mangrove Bunton

  • 28 Jul 2026 17:46 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Cilacap : PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menghadirkan inovasi teknologi Internet of Things (IoT) di Rumah Bibit Mangrove Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap yang direamikan pada Selasa (28/7/2026). Program ini menjadi bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sekaligus mendukung program Electrifying Agriculture untuk meningkatkan kualitas bibit mangrove sebelum ditanam di kawasan pesisir.

Inovasi tersebut dikembangkan bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Lestari sebagai solusi atas kendala pembibitan mangrove yang selama ini dihadapi petani. Rumah bibit yang berada jauh dari aliran sungai membuat proses penyiraman dan pengaturan kadar air menjadi tidak optimal.

Ketua KTH Wana Lestari, Jaban Sukarto, mengatakan tantangan utama dalam pembibitan mangrove adalah memenuhi kebutuhan air tawar dan air payau agar bibit dapat tumbuh seperti di habitat aslinya.

"Selama ini kami kesulitan pengairan karena harus memadukan air tawar dan air payau. Biayanya juga cukup besar. Dengan adanya sistem ini, kondisi pasang surut bisa dimodifikasi sehingga menyerupai kondisi alam yang sebenarnya," ujarnya.

Menurutnya, teknologi tersebut telah disosialisasikan kepada pengurus kelompok tani sehingga dapat dioperasikan sesuai kebutuhan bibit mangrove. Ia berharap inovasi itu mampu meningkatkan kualitas bibit sekaligus mendukung pengembangan Desa Bunton sebagai desa wisata berbasis konservasi mangrove.

"Ke depan bukan hanya untuk menanam mangrove, tetapi juga menjadi destinasi wisata edukasi. Kami berharap dengan pendampingan dari PLN EPI pengembangannya bisa lebih baik dan berkelanjutan," katanya.

Hingga saat ini, KTH Wana Lestari telah memproduksi sekitar 10 ribu bibit mangrove. Bibit tersebut telah dimanfaatkan oleh berbagai pihak, di antaranya Cabang Dinas Kehutanan, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta PLN EPI untuk kegiatan rehabilitasi pesisir.

Manager Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Energi Primer Indonesia, Dita Artsana, menjelaskan rumah bibit tersebut merupakan program TJSL yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan bibit mangrove jenis Rhizophora maupun Cemara Udang di Desa Bunton.

Berbeda dengan rumah bibit konvensional, fasilitas ini telah dilengkapi teknologi IoT yang mampu mengatur siklus pasang dan surut air secara otomatis sehingga menyerupai kondisi alami di sungai.

"Kalau biasanya rumah bibit hanya tergenang air, sekarang sudah ada tambahan teknologi IoT. Air di dalam rumah bibit bisa mengalami pasang dan surut seperti di sungai sehingga tingkat kematian bibit diharapkan semakin rendah," ujar Dita.

Selain mendukung konservasi, rumah bibit juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok tani. Bibit yang dihasilkan dapat dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan kegiatan penanaman mangrove di berbagai wilayah.

Setiap tahun rumah bibit ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 10 ribu bibit. Sebagian bibit dijual, kemudian hasil penjualannya digunakan kembali untuk membeli propagul dan memperbanyak pembibitan sehingga program dapat berjalan secara berkelanjutan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap menilai keberadaan rumah bibit berteknologi IoT akan mendukung kebutuhan bibit mangrove yang terus meningkat seiring pelaksanaan berbagai program rehabilitasi pesisir, termasuk Gerakan Mageri Segoro di Jawa Tengah.

"Secara spesifik kita belum menghitung, akan tetapi kalau kebutuhannya ya jutaan ya. Untuk Jawa Tengah total 1,6 juta, di Cilacap160 ribu. Maka tentu dengan adanya rumah bibit ini yang perlakuannya jos, itu sudah seperti di alamnya, maka bibit mangrove diharapkan memiliki daya hidup lebih tinggi sehingga mampu meningkatkan keberhasilan program penanaman mangrove di wilayah pesisir Cilacap maupun daerah lainnya," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....