Radar Cuaca S-Band BMKG Cilacap Perkuat Akurasi Peringatan Dini di Banyumas Raya

  • 25 Jul 2026 11:05 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Keberadaan Radar Cuaca S-Band milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap menjadi salah satu teknologi andalan dalam meningkatkan akurasi pemantauan cuaca dan penyampaian peringatan dini di wilayah Banyumas Raya serta pesisir selatan Jawa.

Ketua Tim Analisa dan Prakiraan BMKG Cilacap, Adnan Dendi Mardika, menjelaskan radar cuaca merupakan alat yang digunakan untuk mendeteksi dinamika atmosfer, khususnya keberadaan tetesan air hujan di atmosfer. Radar yang ditempatkan di Cilacap tersebut mampu mengamati kondisi cuaca hingga radius sekitar 400 kilometer.

"Radar ini digunakan untuk mengamati estimasi curah hujan, mendukung prakiraan cuaca jangka pendek atau nowcasting hingga 0 sampai 3 jam ke depan, serta mengklasifikasikan jenis presipitasi hujan yang terjadi," kata Adnan.

Menurutnya, BMKG memilih teknologi radar tipe S-Band karena memiliki kemampuan yang lebih unggul dibandingkan jenis radar lainnya, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem. Radar ini memiliki tingkat pelemahan sinyal (atenuasi) yang rendah sehingga mampu menjangkau area pengamatan yang lebih luas.

Adnan mengatakan, keunggulan tersebut memungkinkan radar tetap mendeteksi awan hujan yang berada di balik hujan lebat, sesuatu yang sulit dilakukan oleh radar dengan frekuensi lebih tinggi.

"Dengan radar S-Band, kami masih bisa melihat potensi awan hujan di belakang hujan yang sedang terjadi. Itulah mengapa radar ini sangat cocok digunakan di wilayah pesisir selatan Jawa maupun kawasan dataran tinggi Jawa Tengah yang memiliki topografi cukup kompleks," ujarnya.

Untuk wilayah Banyumas Raya, radar S-Band mampu menjangkau seluruh Kabupaten Banyumas hingga wilayah bagian utara. Namun demikian, kualitas pengamatan akan semakin baik pada daerah yang lokasinya lebih dekat dengan radar.

"Secara operasional, pengamatan real time difokuskan pada radius sekitar 100 hingga 250 kilometer. Banyumas masih masuk dalam cakupan pengamatan dan informasi yang dihasilkan sudah sangat memadai untuk mendukung layanan peringatan dini," kata Adnan kembali.

Ia menambahkan, hasil pengamatan radar menjadi salah satu dasar penting dalam penerbitan peringatan dini cuaca oleh BMKG. Karena itu, masyarakat diimbau memanfaatkan informasi tersebut sebagai langkah kesiapsiagaan, bukan untuk menimbulkan kepanikan.

"Yang terpenting masyarakat jangan panik. Informasi peringatan dini harus dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk melakukan mitigasi lebih awal, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat, banjir, maupun longsor," ucapnya.

Ke depan, BMKG juga terus meningkatkan kualitas layanan melalui integrasi seluruh radar cuaca di Indonesia dalam sistem SIDARMA. Sistem tersebut menghubungkan radar-radar cuaca di berbagai daerah sehingga mampu saling melengkapi cakupan pengamatan, khususnya pada wilayah dengan kondisi topografi yang sulit.

"Dengan integrasi radar nasional, informasi cuaca akan semakin lengkap, lebih cepat, dan semakin akurat. Wilayah yang belum terjangkau optimal oleh satu radar dapat dipantau melalui radar di daerah sekitarnya," ujarnya.

Adnan berharap masyarakat semakin memahami pentingnya informasi cuaca dan peringatan dini yang disampaikan BMKG. Menurutnya, peningkatan literasi cuaca dan iklim merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, BMKG, para pemangku kepentingan, dan masyarakat.

"Kami akan terus meningkatkan kualitas informasi agar semakin akurat dan bermanfaat. Namun, informasi tersebut juga harus dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat dan seluruh stakeholder demi keselamatan bersama," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....