Hari Kebaya Nasional, PBI Banyumas Ajak Generasi Muda Berkebaya
- 24 Jul 2026 17:36 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas – Peringatan Hari Kebaya Nasional yang jatuh setiap 24 Juli menjadi momentum untuk menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap kebaya sebagai warisan budaya Indonesia. Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Wilayah Banyumas mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak malu mengenakan kebaya sekaligus memahami pakem yang menjadi identitas busana tradisional tersebut.
Ketua PBI Wilayah Banyumas, Hersi Widyastuti, mengatakan Hari Kebaya Nasional yang diperingati berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2023 menjadi pengingat bahwa kebaya bukan sekadar busana, melainkan simbol budaya yang telah mendapat pengakuan dunia.
"Kebaya adalah warisan nenek moyang yang harus terus kita uri-uri. Alhamdulillah sekarang sudah diakui UNESCO dan Hari Kebaya Nasional tahun ini menjadi peringatan yang ketiga. Kebaya bahkan sudah mendunia karena PBI juga hadir di Eropa," katanya, Jumat (24/7/2026).
Menurut Hersi, perkembangan model kebaya yang semakin modern tidak boleh menghilangkan pakem dasar yang menjadi ciri khasnya. Ia menjelaskan, terdapat dua model utama yang menjadi acuan, yakni kebaya model kudubaru dan kebaya Kartini.
"Model boleh berkembang mengikuti zaman, tetapi pakemnya jangan sampai hilang. Itu yang harus dipahami masyarakat agar nilai budayanya tetap terjaga," ujarnya.
Ia menambahkan, setiap daerah memiliki ciri khas kebaya masing-masing. Di Banyumas misalnya, dikenal kebaya mekak yang identik dengan warna hitam. Sementara kain bawahan sebaiknya tetap menggunakan kain berwiru, meski kini banyak inovasi berupa kain lilit atau dipadukan dengan celana untuk menyesuaikan aktivitas.
"Kalau untuk aktivitas seperti naik gunung atau off-road tentu boleh disesuaikan. Yang penting masyarakat tahu mana yang merupakan pakem dan mana yang merupakan bentuk modifikasi," katanya.
Hersi menepis anggapan bahwa mengenakan kebaya selalu identik dengan biaya mahal dan penampilan yang rumit. Menurutnya, kebaya tersedia dengan harga yang sangat beragam, mulai puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah, tergantung bahan dan detail pengerjaannya.
"Berkebaya tidak harus mahal. Yang terpenting adalah rasa bangga mengenakannya. Saya ingin menghilangkan anggapan bahwa memakai kebaya harus selalu ke salon atau mengeluarkan biaya besar," ujarnya.
Untuk memperluas kecintaan terhadap kebaya, PPI Banyumas aktif menggelar program "Kebaya Goes to School" dengan melibatkan sekolah hingga perguruan tinggi. Selain itu, pada 26 Juli mendatang PBI Banyumas akan mengadakan peringatan Hari Kebaya Nasional di pelataran Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang akan diikuti mahasiswa dengan mengenakan beragam kebaya Nusantara.
Saat ini PBI Banyumas memiliki sekitar 75 anggota aktif dari berbagai profesi, mulai dari guru, aparatur sipil negara, pengusaha hingga pelaku usaha. Menurut Hersi, jumlah anggota sengaja dibatasi agar organisasi tetap aktif dalam menjalankan berbagai program pelestarian budaya.
Di akhir perbincangan, Hersi mengajak generasi muda menjadikan kebaya sebagai bagian dari gaya hidup tanpa meninggalkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
"Jangan takut dan jangan malu berkebaya. Kebaya tidak membuat seseorang terlihat kuno, justru membuat perempuan tampil anggun dan percaya diri. Ketika kita mengenakan kebaya, kita juga belajar menjaga sikap dan menghargai warisan budaya bangsa," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....