Mahasiswa Unsoed Ajak Generasi Muda Gunakan AI secara Bijak dan Bertanggung Jawab
- 24 Jul 2026 15:50 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari membantu proses belajar, membuat konten, hingga mencari informasi. Namun, penggunaan AI dinilai harus tetap dibarengi dengan kemampuan berpikir kritis agar tidak menimbulkan ketergantungan.
Dalam program Sore Ceria - English Corner di Pro 2 RRI Purwokerto bertema "AI: Helping Us or Holding Us Back", mahasiswa EFEC Unsoed, Novi mengatakan AI sangat membantu aktivitas perkuliahan. Terutama untuk memahami materi dan mengecek jawaban tugas.
"Saya menggunakan AI untuk memeriksa apakah jawaban saya sudah benar atau belum. AI membantu saya belajar, tetapi saya tetap menyadari ada dampak negatif jika digunakan secara berlebihan," ujar Novi.
| Baca juga: KKN Berdampak Dorong Kemandirian Desa |
Senada dengan itu, Quincy dari EFEC Unsoed menilai AI memberikan banyak kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. Menurutnya, teknologi tersebut bisa dimanfaatkan untuk belajar dan mencari referensi, namun tetap berpotensi disalahgunakan.
"AI sangat mengesankan, tetapi juga cukup menakutkan karena ada orang yang menggunakannya untuk menipu atau menyalahgunakan data. Jadi, AI memiliki dampak positif sekaligus negatif," kata Quincy.
Dalam diskusi yang dipandu Rofi Tsani dan didampingi Falin sebagai co-host, para narasumber juga menyoroti pentingnya membatasi penggunaan AI. Quincy menegaskan AI sebaiknya dijadikan alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia.
"Gunakan AI untuk belajar dan mengembangkan kemampuan, bukan hanya mengetik perintah lalu menyalin hasilnya. Karya orisinal tetap jauh lebih berharga," kata Quincy.
Sementara itu, Novi mengingatkan pengguna agar tidak langsung mempercayai semua informasi yang diberikan AI. Ia menyarankan setiap informasi tetap diperiksa kembali melalui sumber lain agar terhindar dari kesalahan.
"Mari gunakan AI untuk meningkatkan kemampuan, bukan untuk bermalas-malasan. Selalu lakukan pengecekan ulang agar informasi yang kita gunakan benar," ujar Novi.
Di akhir perbincangan, para narasumber sepakat bahwa kemampuan seperti berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, kepemimpinan, dan membangun jejaring akan tetap dibutuhkan di era AI. Mereka berharap masyarakat, khususnya generasi muda, mampu memanfaatkan teknologi secara bijak sehingga AI menjadi pendukung produktivitas, bukan penghambat kemampuan berpikir manusia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....