UNICEF Tekankan Pentingnya Ruang Aman dan Literasi Digital untuk Melindungi Anak

  • 23 Jul 2026 11:12 WIB
  •  Purwokerto

RRI Purwokerto, Banyumas – Perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dunia usaha, hingga anak itu sendiri. Hal tersebut disampaikan Chief of Field Office UNICEF Indonesia, Arie Rukmantara, saat diwawancara RRI pada Kamis (23/7/2026).

Menurut Arie, tema Hari Anak Nasional yang menekankan pentingnya menciptakan ruang aman dan nyaman bagi anak harus diwujudkan melalui lingkungan keluarga, sekolah, hingga daerah yang ramah anak.

"Semua orang dewasa memiliki kewajiban menciptakan rumah yang aman dan nyaman, sekolah yang ramah, kabupaten layak anak, hingga Indonesia yang benar-benar layak anak," ujarnya.

Ia menjelaskan, perlindungan anak tidak hanya berkaitan dengan penanganan kasus kekerasan, tetapi juga upaya pencegahan sejak dini. Salah satunya melalui pemenuhan hak kesehatan anak, seperti imunisasi, pemberian ASI, pemeriksaan kesehatan rutin, serta penerapan disiplin positif dan pencegahan perundungan di sekolah.

Selain itu, anak juga perlu didorong berani melaporkan berbagai persoalan yang dihadapi maupun menyampaikan praktik-praktik baik di lingkungannya melalui forum anak dan berbagai inisiatif perlindungan anak.

Arie menekankan, keberhasilan sebuah daerah dalam perlindungan anak tidak hanya diukur dari sedikitnya kasus kekerasan, melainkan dari kecepatan dan sinergi seluruh pihak dalam menangani setiap kasus yang terjadi.

"Ketika ada kekerasan, responsnya harus cepat dan terkoordinasi. Dinas terkait, tenaga kesehatan, pekerja sosial, aparat penegak hukum, organisasi masyarakat, hingga pemerintah daerah harus bergerak bersama," katanya.

Menurutnya, tantangan yang kini semakin mendesak adalah perlindungan anak di ruang digital. Orang dewasa dinilai perlu meningkatkan literasi digital agar mampu mendampingi anak dalam menggunakan internet dan media sosial secara aman.

"Yang paling penting sekarang adalah orang dewasa cepat belajar teknologi dan media digital agar bisa membimbing anak. Anak tidak boleh dibiarkan menjelajah dunia digital tanpa pendampingan karena mereka belum memahami berbagai risikonya," jelas Arie.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi memiliki dua sisi. Di satu sisi memberikan peluang besar bagi anak untuk belajar, mengembangkan kemampuan bahasa, sains, hingga teknologi. Namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan ancaman seperti kekerasan dan penyalahgunaan di ruang digital.

Karena itu, UNICEF mendorong pemerintah daerah menerjemahkan kebijakan nasional mengenai perlindungan anak di ruang digital ke dalam regulasi yang sesuai dengan kondisi daerah, termasuk mengatur penggunaan media sosial bagi anak dan memperkuat edukasi literasi digital.

Di akhir keterangannya, Arie berharap anak-anak Indonesia tumbuh menjadi generasi yang mampu memanfaatkan teknologi untuk kemajuan, sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keberagaman, dan perdamaian.

"Anak-anak hari ini adalah calon pemimpin masa depan. Tugas kita bersama memastikan mereka tumbuh di lingkungan yang aman, sehat, dan siap menjadi pemimpin yang membawa nilai kemanusiaan bagi Indonesia maupun dunia," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....