Minat Mahasiswa Mondok Dinilai Tetap Tinggi Meski UIN Saizu Hapus Kewajiban
- 22 Jul 2026 14:47 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Kebijakan Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto yang tidak lagi mewajibkan mahasiswa tinggal di pondok pesantren dinilai tidak berpengaruh signifikan terhadap minat mahasiswa untuk menjadi santri. Keinginan mondok disebut lebih ditentukan oleh kesadaran pribadi dalam mendalami ilmu agama daripada adanya aturan dari perguruan tinggi.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin Grendeng, Gus Syafiq Muqoffi, mengatakan jumlah santri di pesantrennya tetap stabil meski kebijakan wajib mondok telah dihapus.
"Alhamdulillah, di Pondok Pesantren Al-Qur'an Al-Amin Grendeng kebijakan tersebut tidak terlalu berdampak. Jumlah santri relatif sama seperti ketika kebijakan wajib mondok masih berlaku," ujarnya.
Menurut Gus Syafiq, mahasiswa yang memilih tinggal di pesantren umumnya memiliki motivasi untuk memperdalam ilmu agama, memperbaiki bacaan Al-Qur'an, hingga mengikuti program tahfiz. Motivasi tersebut berasal dari kebutuhan dan kesadaran diri, bukan semata-mata karena kewajiban akademik.
Ia menilai pesantren masih memiliki keunggulan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi maupun pembelajaran di lingkungan kampus. Salah satunya adalah tradisi pembelajaran secara langsung antara guru dan santri melalui majelis ilmu yang telah berlangsung turun-temurun.
"Mahasiswa yang memang ingin belajar membaca Al-Qur'an dengan baik, mendalami ilmu agama, atau mengikuti program tahfiz akan tetap memilih mondok meski tidak lagi diwajibkan," katanya.
Gus Syafiq menegaskan, keberadaan pesantren tetap relevan di tengah perkembangan zaman karena menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus pelestarian tradisi keilmuan Islam. Oleh karena itu, ia berharap mahasiswa tetap memiliki semangat untuk mondok, namun atas dasar kesadaran dan pilihan pribadi.
"Pesantren tetap relevan dan perlu dipertahankan. Mahasiswa sebaiknya tetap mondok, tetapi bukan karena dipaksa. Keinginan itu harus lahir dari kesadaran diri sendiri," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai eksistensi pesantren tidak diukur dari banyak atau sedikitnya jumlah santri. Yang terpenting, menurutnya, adalah keberlangsungan tradisi mengaji dan pendidikan agama yang dilakukan secara istiqamah.
"Selama tradisi mengaji dan pendidikan agama terus berjalan, pesantren akan tetap bertahan dan menjalankan fungsinya sebagai tempat menuntut ilmu," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....