Sekolah Rakyat Banyumas Siap Gelar MPLS Ramah, Fokus Adaptasi Berasrama
- 22 Jul 2026 13:47 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Banyumas menyatakan siap melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Berbeda dengan sekolah reguler, MPLS di Sekolah Rakyat akan memberikan perhatian khusus pada proses adaptasi peserta didik terhadap kehidupan berasrama sebagai bagian dari konsep pendidikan boarding school.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Banyumas, Siti Isbandiyah, S.Pd., M.M., mengatakan seluruh persiapan penyelenggaraan MPLS telah dilakukan, mulai dari pembentukan panitia hingga penyusunan rangkaian kegiatan sesuai pedoman dari Kementerian Sosial. Rencananya kegiatan MPLS akan dimulai pada Jumat (31/7/2026).
"Saat ini kami tinggal menyelesaikan kesiapan sarana dan prasarana karena sekolah sedang berproses melakukan transisi dari sekolah rintisan menuju sekolah permanen yang berlokasi di Desa Karangtengah, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Insya Allah MPLS akan dimulai pada 31 Juli 2026," ujarnya.
Menurut Siti, secara umum materi MPLS tidak berbeda dengan sekolah lainnya karena tetap mengacu pada panduan resmi. Namun, terdapat sejumlah penyesuaian mengingat Sekolah Rakyat menerapkan sistem pendidikan berasrama.
Dalam pelaksanaannya, peserta didik akan dikenalkan pada kehidupan di asrama, mulai dari tata tertib, pola hidup bersama, hingga pembentukan karakter agar mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman yang sebelumnya belum dikenal.
"Kami harus mempersiapkan mereka, baik secara mental maupun fisik. Secara fisik diawali dengan cek kesehatan gratis dan tes kebugaran. Sementara secara mental akan ada pendampingan dari para wali asuh yang membimbing mereka sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat," jelasnya.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut menjadi bagian penting karena Sekolah Rakyat tidak hanya berorientasi pada pendidikan, tetapi juga memiliki basis layanan sosial sehingga membutuhkan pola pengasuhan yang lebih intensif.
Meski demikian, Siti mengakui pelaksanaan MPLS tahun ini memiliki sejumlah tantangan. Salah satunya adalah proses adaptasi siswa terhadap lingkungan sekolah permanen yang memiliki fasilitas jauh lebih lengkap dibandingkan sekolah rintisan.
Selain itu, mayoritas peserta didik berasal dari keluarga desil 1 dan desil 2 sehingga berpotensi mengalami culture shock saat memasuki lingkungan baru.
"Anak-anak akan menempati gedung yang sangat berbeda dengan kehidupan mereka sehari-hari. Karena itu kami sudah menyiapkan para wali asuh untuk mendampingi mereka selama 24 jam agar proses adaptasi berjalan lancar," katanya.
Tantangan lainnya adalah luas kawasan sekolah yang mencapai sekitar 6,8 hektare. Kondisi tersebut menuntut peserta didik membiasakan diri dengan lingkungan yang lebih luas sekaligus membangun kemandirian dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Meski begitu, pihak sekolah optimistis seluruh potensi kendala telah diantisipasi melalui berbagai persiapan yang matang sehingga tidak menghambat pelaksanaan MPLS.
Siti berharap peserta didik angkatan kedua Sekolah Rakyat dapat mengikuti seluruh rangkaian MPLS Ramah dengan baik, cepat beradaptasi, serta merasa aman dan nyaman selama menjalani pendidikan di lingkungan berasrama.
"Harapan kami anak-anak bisa mengikuti kegiatan akademik maupun nonakademik dengan nyaman, menjadi kebanggaan orang tua, serta tumbuh menjadi generasi yang berkualitas. Tujuan utama Sekolah Rakyat adalah memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan, dan semua itu dimulai dari proses MPLS yang ramah dan menyenangkan," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....