Dinas Pertanian Banyumas Perkuat Inkubasi dan Teknologi untuk Cetak Petani Muda

  • 21 Jul 2026 10:13 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas terus berupaya mempercepat regenerasi petani melalui berbagai program kolaborasi dan inkubasi yang menyasar generasi muda. Langkah tersebut dilakukan untuk mengubah pandangan bahwa bertani merupakan pekerjaan yang berat, kotor, dan kurang menjanjikan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Arif Sukmo Buwono, S.T., M.M., mengatakan program inkubasi dirancang agar generasi muda memiliki pengalaman, pendampingan, dan rasa percaya diri sebelum benar-benar terjun ke sektor pertanian.

"Program kolaborasi atau inkubasi ini salah satunya berupa magang pertanian muda. Karena banyak anak muda yang takut gagal, maka kita harus membuat mereka merasa nyaman bahwa bertani itu menyenangkan, menguntungkan, tidak kotor, dan bisa dipantau melalui handphone," ujarnya kepada RRI Purwokerto.

Menurut Arif, penerapan teknologi menjadi salah satu kunci untuk menarik minat generasi muda. Dengan memanfaatkan teknologi digital, aktivitas pertanian tidak lagi identik dengan pekerjaan yang melelahkan, tetapi dapat dikelola secara lebih modern dan efisien.

Selain program inkubasi, Dinas Pertanian juga menjalankan berbagai program pembinaan, di antaranya Muda Tani serta Takaramerdaya (Taruna Karya Mandiri Menuju Kecamatan Sejahtera) yang telah diluncurkan pada 2025. Pada 2026, Dinas Pertanian Banyumas juga akan memperluas kerja sama dengan berbagai pihak, seperti Bank Indonesia, Baznas, perbankan, dan perguruan tinggi melalui program "Chili Goes to School".

Program tersebut bertujuan mengenalkan dunia pertanian kepada pelajar melalui edukasi dan praktik langsung sehingga mereka tidak ragu memilih sektor pertanian sebagai profesi.

"Kita ingin pemahaman dan praktik mereka semakin baik sehingga tidak ragu masuk ke dunia pertanian," katanya.

Meski demikian, Arief mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam menciptakan regenerasi petani di Banyumas. Salah satu tantangan terbesar adalah memperkuat pendampingan secara berkelanjutan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Menurutnya, regenerasi petani tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah daerah, tetapi membutuhkan dukungan pemerintah desa, kelompok tani, perguruan tinggi, hingga lembaga perbankan.

"Pendampingan harus dilakukan secara masif. Ini bukan hanya menjadi program pemerintah kabupaten, tetapi harus melibatkan pemerintah desa, kelompok tani, perguruan tinggi, dan perbankan agar petani muda benar-benar memahami serta mencintai dunia pertanian," katanya.

Ia juga menilai pemanfaatan teknologi digital harus semakin dioptimalkan. Telepon pintar, menurutnya, dapat menjadi alat untuk memantau aktivitas budidaya, mengelola data pertanian, hingga meningkatkan efisiensi usaha tani.

Tidak hanya itu, Arif mendorong pengembangan konsep agrowisata dan konten digital berbasis pertanian. Dengan cara tersebut, petani diharapkan tidak hanya memperoleh pendapatan saat masa panen, tetapi juga memiliki sumber penghasilan tambahan dari sektor wisata dan ekonomi kreatif.

"Kita ingin pertanian menjadi wisata sekaligus konten digital. Jadi pendapatan petani tidak hanya menunggu masa panen sekitar empat bulan sekali, tetapi bisa memperoleh pemasukan setiap hari," ucapnya.

Di akhir wawancara, Arif mengajak generasi muda untuk tidak ragu menekuni sektor pertanian. Menurutnya, pertanian masa kini telah berkembang menjadi sektor yang modern, berbasis data, dan memanfaatkan teknologi seperti Internet of Things (IoT).

"Pertanian sekarang harus menyenangkan, tidak capek, tidak kotor, dan semuanya berbasis data dengan dukungan teknologi. Kami akan terus melakukan pendampingan agar generasi muda yakin bahwa sektor pertanian memiliki daya saing dan mampu menjadi profesi yang menjanjikan di masa depan," ujanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....