Gerbeg Suran Baturraden, Simbol Syukur dan Pelestarian Budaya Banyumas
- 11 Jul 2026 10:33 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Tradisi Gerbeg Suran Baturraden tidak sekadar menjadi agenda budaya tahunan di Kabupaten Banyumas, tetapi juga mengandung nilai spiritual, sosial, dan pelestarian lingkungan yang terus dijaga keberlangsungannya. Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) berkomitmen mendukung pelestarian tradisi tersebut melalui berbagai program fasilitasi dan kolaborasi dengan masyarakat adat.
Hal tersebut disampaikan Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Kebudayaan DINPORABUDPAR Kab. Banyumas, Muhammad Farid, S.Ant. Farid menjelaskan bahwa Gerbeg Suran memiliki makna yang sejalan dengan tradisi sedekah bumi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil alam sekaligus doa untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, tradisi tersebut juga mengandung nilai penting dalam menjaga hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, serta alam.
"Gerbeg Suran merupakan tradisi adat yang memiliki banyak makna, mulai dari aspek spiritual, hubungan antarmanusia, semangat gotong royong, hingga bagaimana masyarakat diajak untuk menjaga kelestarian alam," katanya, menjelaskan.
Farid juga mengatakan, Pemerintah Kabupaten Banyumas secara rutin menjalankan program pelestarian upacara adat dan tradisi melalui Bidang Kebudayaan Dinporabudpar. Salah satunya dengan memberikan fasilitasi kepada kelompok masyarakat adat agar berbagai ritual dan tradisi tetap dapat dilaksanakan setiap tahun.
Ia menjelaskan, bantuan tersebut diharapkan mampu mendukung masyarakat adat, komunitas budaya, dan para pelaku tradisi untuk terus melestarikan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Selain aspek pelestarian, pemerintah juga mendorong agar tradisi budaya dapat berkembang menjadi daya tarik wisata tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
"Di bidang pariwisata, kami mendukung bagaimana upacara adat dan tradisi bisa dikemas menjadi daya tarik wisata, namun tetap mempertahankan makna dan nilai budayanya," ucap Farid.
Dalam upaya pelestarian, Dinporabudpar juga menggandeng berbagai komunitas budaya dan masyarakat adat. Pemerintah berperan memberikan dukungan melalui fasilitasi, kajian budaya, inventarisasi, hingga dokumentasi dalam bentuk video dokumenter sebagai upaya perlindungan warisan budaya.
Meski demikian, Farid mengakui regenerasi menjadi tantangan terbesar dalam menjaga keberlangsungan tradisi Gerbeg Suran di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, sebagian besar pelaku adat saat ini merupakan generasi yang sudah lanjut usia, sementara minat generasi muda terhadap tradisi masih perlu terus ditingkatkan.
Karena itu, pemerintah berupaya mengenalkan tradisi kepada generasi muda melalui berbagai publikasi dan mengajak mereka terlibat langsung dalam pelaksanaan upacara adat.
"Harapannya, generasi muda tidak hanya mengenal tradisi melalui informasi, tetapi juga ikut berpartisipasi sehingga proses regenerasi dapat berjalan," katanya.
Farid menambahkan, Gerbeg Suran Baturraden telah menjadi salah satu agenda tahunan (calendar of event) Kabupaten Banyumas. Setiap tahun, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut, termasuk berbagai tradisi Gerbeg Suran di wilayah lain di Banyumas.
Melalui dukungan berkelanjutan tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyumas berharap Gerbeg Suran tetap lestari sebagai warisan budaya sekaligus menjadi identitas daerah yang mampu menarik minat masyarakat maupun wisatawan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....