BMKG: Puncak Musim Kemarau di Banyumas Raya-Cilacap Diprediksi Terjadi Agustus
- 29 Jun 2026 09:11 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Cilacap: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Cilacap memprediksi puncak musim kemarau di wilayah Cilacap dan Banyumas Raya akan terjadi pada bulan Agustus 2026. Meski demikian, awal musim kemarau di masing-masing wilayah memiliki perbedaan waktu.
Prakirawan Cuaca BMKG Cilacap, Adnan Dendi Mardika, menjelaskan secara umum wilayah Cilacap lebih dahulu memasuki musim kemarau, yakni sejak pertengahan hingga akhir Mei. Sementara itu, di wilayah Banyumas, terutama bagian utara dan tengah, musim kemarau baru mulai berlangsung pada awal hingga pertengahan Juni.
“Secara umum puncak musim kemarau di Cilacap maupun Banyumas diperkirakan sama-sama terjadi pada bulan Agustus,” kata Adnan.
Ia menambahkan, untuk wilayah Banyumas bagian barat daya, selatan, dan tenggara, serta sebagian besar Cilacap, durasi musim kemarau diprediksi lebih panjang, yakni sekitar 14 hingga 18 dasarian atau setara 5 sampai 6 bulan.
Menurut BMKG, potensi kekeringan di setiap wilayah dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni sifat musim kemarau dan jumlah hari tanpa hujan. Berdasarkan analisis klimatologi selama 30 tahun terakhir (1991–2020), curah hujan pada musim kemarau tahun ini di Banyumas dan Cilacap diperkirakan berada di bawah normal, atau kurang dari 85 persen rata-rata bulanan.
Kondisi ini membuat risiko kekeringan di sejumlah wilayah meningkat. Di Banyumas, sebagian besar wilayah masih berpeluang diguyur hujan dalam satu hingga lima hari ke depan, terutama di wilayah utara, namun wilayah selatan cenderung lebih kering.
Sementara di Cilacap, beberapa wilayah seperti Kawunganten dan Sidareja tercatat telah mengalami sekitar 20 hari tanpa hujan. Kondisi ini menjadi perhatian khusus karena berpotensi memicu krisis air bersih.
“Daerah-daerah itu perlu diwaspadai karena potensi kekeringannya lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya,” ujarnya.
Selain berdampak pada ketersediaan air bersih, musim kemarau panjang juga berpotensi memengaruhi sektor pertanian. Petani diimbau mulai menyesuaikan pilihan varietas tanaman serta teknik budidaya agar tetap produktif di tengah kondisi kering.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gangguan kesehatan seperti dehidrasi dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang berisiko meningkat saat udara menjadi lebih kering.
Kepada pemerintah daerah, BMKG meminta agar informasi prakiraan cuaca dapat dijadikan dasar untuk menyusun langkah tanggap darurat kekeringan. Termasuk pemetaan wilayah rawan krisis air, penyediaan armada distribusi air bersih, serta pemantauan sistem irigasi dan waduk.
“Dengan persiapan sejak dini, diharapkan dampak musim kemarau panjang bisa diminimalkan, baik bagi masyarakat maupun sektor pertanian,” ujar Adnan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....