Pakar Belanda Soroti Nasib Lokomotif Bersejarah Eks PG Klampok

  • 22 Jun 2026 08:03 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banjarnegara: Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia (KSPI), Minggu 21 Juni 2026 menggelar webinar dengan topik: 100 Jear D&B locomotive of PG Sumberharjo. Ini merupakan webinar internasional, karena menghadirkan narasumber dari Belanda Gerrard de Graaf.

Gerard adalah seorang pakar, kolektor, dan peneliti sejarah perkeretaapian Belanda yang sangat fokus pada jalur kereta api tambang di era Hindia Belanda. Ia juga merupakan perwakilan dari The Nederlands Smalspoor Museum yang pernah bekerja sama dengan PT KAI (Persero). Kontribusi utama dan karya beliau dalam sejarah kereta api di Indonesia melalui buku Perkeretaapian berjudul De Indische Mijnspoorwegen (Kereta Api Tambang Hindia Belanda).

Untuk diketahui, meskipun lokomotif yang dipresentasikan oleh Gerrard saat ini bernama resmi Soemberhardjo, namun lokomotif bernomor 09 ini awalnya cukup lama beroperasi di Pabrik Gula Klampok, Banjarnegara.

Gerrard mengungkapkan pihaknya berupaya agar lokomotif tipe sepur sempit yang ada di Indonesia dapat dipulang kampungkan ke Belanda untuk direstorasi.

Menurutnya tidak mudah untuk membawa lokomotif itu kembali ke Belanda, meskipun kondisinya di Indonesia saat ini menjadi barang rongsokan.

"Dua lokomotif yang kami bawa pulang kampung, harus melewati birokrasi berbelit dan juga harus kami tebus lima ribu dolar kepada Kementerian BUMN. Tidak mudah untuk membawa lokomotif itu karena biaya pengangkatannya juga mahal," jelas Gerrard.

Ia berharap ke depan pemerintah memberikan akses yang lebih mudah, dengan imbal balik pertukaran artefak-artefak Indonesia yang ada di Belanda.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Banjarnegara Heni Purwono yang juga hadir dalam webinar tersebut mengaku sangat mengapresiasi komunitas Du Croo and Brauns Locomotive di Belanda yang sangat aktiv melakukan upaya restorasi kereta api yang ada di Indonesia.

"Kadang kami juga prihatin, aset sejarah yang luar biasa di Indonesia terbengkalai begitu saja. Bahkan yang sudah-sudah, lokomotif uap dan kuno lainnya justru dirucat menjadi barang besi kiloan oleh pihak terkait. Ini kan sangat disayangkan. Padahal kita selalu digembar-gemborkan untuk Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah," ujar Heni.

Dalam kesempatan itu, Gerrard juga berjanji akan memberikan bantuan akses informasi mengenai sejarah, khususnya perkeretaapian dan juga pabrik gula Klampok Banjarnegara. Saat ini, beberapa bangunan di Klampok telah ditetapkan menjadi cagar budaya, dan ke depan Disbudpar Banjarnegara juga tengah mengusahakan agar Klampok dijadikan sebagai kawasan cagar budaya karena memiliki banyak sekali struktur, benda dan bangunan cagar budaya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....