Media Sosial Bisa Jadi Inspirasi, tapi juga Bisa Memicu Perbandingan Diri
- 15 Jun 2026 15:44 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Namun di balik manfaatnya sebagai sarana informasi dan komunikasi, media sosial juga dapat memicu kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Hal ini dibahas dalam program English Corner Pro 2 RRI Purwokerto yang mengangkat tema The Joy of Social Media and the Comparison Trap. Dalam diskusi tersebut, narasumber Ani dan Putri menjelaskan bahwa banyak orang tanpa sadar merasa kurang percaya diri setelah melihat unggahan orang lain di media sosial.
“Saat melihat unggahan orang lain, kita sering merasa hidup kita tidak cukup baik. Padahal yang kita lihat hanyalah bagian terbaik dari kehidupan mereka,” ujar Putri.
Foto liburan, pencapaian akademik, hingga gaya hidup yang terlihat sempurna sering kali membuat seseorang merasa tertinggal. Keduanya juga menyoroti peran algoritma media sosial yang terus menampilkan konten serupa dengan apa yang sering dilihat pengguna.
Kondisi ini membuat seseorang semakin sering terpapar konten yang memicu rasa iri, tidak percaya diri, hingga takut tertinggal dari orang lain. Akibatnya, banyak anak muda merasa tertekan untuk selalu terlihat sukses atau sempurna di dunia digital.
“Kita sering lupa menghargai proses dan pencapaian diri sendiri karena terlalu fokus melihat keberhasilan orang lain,” kata Putri.
Menurut Ani, penting bagi pengguna media sosial untuk membedakan antara inspirasi dan perbandingan yang tidak sehat. Jika sebuah konten membuat seseorang termotivasi untuk berkembang, maka itu bisa menjadi inspirasi.
“Coba perhatikan perasaan setelah melihat media sosial. Jika membuat kita lebih percaya diri, itu baik. Tapi jika membuat kita merasa buruk tentang diri sendiri, mungkin sudah saatnya mengevaluasi apa yang kita konsumsi,” ujar Ani.
Namun jika justru membuat merasa rendah diri dan tidak cukup baik, maka konten tersebut sudah masuk ke dalam jebakan perbandingan. Sebagai solusi, keduanya menyarankan agar pengguna lebih bijak mengatur penggunaan media sosial, termasuk membatasi waktu layar dan menyaring akun yang diikuti.
Mereka juga mengingatkan bahwa media sosial seharusnya digunakan sebagai alat untuk belajar dan mencari informasi, bukan sebagai ukuran keberhasilan hidup. Gunakan media sosial sebagai alat, bukan sebagai cermin untuk membandingkan hidup kita dengan orang lain. suoaya kita bisa lebih fokus pada proses dan perkembangan diri sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....