Minta Sapi Cokelat, Bocah 6 Tahun di Banjarnegara Jalani Ruwatan Rambut Gimbal
- 15 Jun 2026 14:43 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banjarnegara – Tradisi ruwatan rambut gimbal masih lestari di sejumlah wilayah di Kabupaten Banjarnegara. Seorang anak perempuan berusia enam tahun di Desa Pagelak, Kecamatan Madukara, menjalani prosesi ruwatan setelah meminta rambut gimbalnya dipotong.
Uniknya, bocah bernama Aswa Hanun Syafira itu mengajukan syarat seekor sapi berwarna cokelat sebelum rambut gimbalnya dicukur. Permintaan tersebut kemudian dipenuhi oleh keluarganya.
Sapi yang menjadi syarat ruwatan disembelih, lalu dagingnya dimasak dan dibagikan kepada warga yang hadir dalam acara tersebut.
Ayah Hanun, Gino, mengatakan rambut gimbal putrinya mulai tumbuh saat berusia sekitar sembilan bulan. Sebelum rambut tersebut muncul, Hanun sempat mengalami demam tinggi dan sering sakit.
"Awalnya hanya sedikit, tetapi lama-kelamaan rambut gimbalnya semakin tebal dan saling menempel," ujar Gino.
Menurut keluarga, rambut gimbal yang dimiliki Hanun merupakan warisan turun-temurun dari garis keturunan ibunya.
Bagi sebagian masyarakat Banjarnegara, rambut gimbal yang tumbuh secara alami pada anak dipercaya memiliki nilai spiritual dan berkaitan dengan tradisi leluhur. Karena itu, rambut tersebut tidak boleh dipotong sembarangan, melainkan harus melalui prosesi ruwatan.
Dalam tradisi tersebut, rambut gimbal baru dapat dipotong apabila anak yang bersangkutan menghendakinya sendiri. Selain itu, permintaan yang diajukan anak harus dipenuhi oleh keluarga.
“Hanun sendiri yang meminta rambutnya dipotong. Ia pun mengajukan syarat seekor sapi berwarna cokelat yang kemudian dipenuhi keluarganya,” katanya.
Prosesi pencukuran berlangsung khidmat dan dipimpin oleh dukun bayi yang biasa menangani ruwatan rambut gimbal. Setelah doa-doa dipanjatkan, rambut gimbal Hanun dipotong untuk pertama kalinya, kemudian dilanjutkan oleh keluarga dan tamu undangan.
Berbeda dengan sejumlah tradisi ruwatan lainnya, potongan rambut Hanun tidak dilarung. Atas permintaannya sendiri.
“Usai dipotong, rambut tersebut disimpan di atas kain putih untuk dijadikan kenang-kenangan saat ia dewasa nanti,” ujarnya.
Usai menjalani prosesi ruwatan, Hanun mengaku senang karena keinginannya telah terpenuhi. Sementara itu, keluarga berharap Hanun tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan bermanfaat bagi sesama.
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut hingga kini masih menjadi simbol rasa syukur sekaligus upaya pelestarian budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Banjarnegara. (jkw)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....