Ditengah Gaji Minim, Guru Honorer Bertahan lewat Kerajinan Sapu Glagah

  • 12 Jun 2026 13:24 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banjarnegara - Keterbatasan pendapatan sebagai guru honorer tidak membuat Nurdin, warga Desa Pasegeran, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, menyerah pada keadaan. Pria ini justru memanfaatkan tanaman glagah yang tumbuh liar di lereng pegunungan untuk dijadikan sapu bernilai ekonomis.

Usaha rumahan yang digelutinya kini menjadi salah satu sumber penghasilan tambahan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Berbekal keterampilan dan ketekunan, Nurdin mengolah tanaman glagah yang selama ini kerap dianggap sebagai rumput liar menjadi sapu berkualitas yang diminati konsumen. Produk kerajinannya bahkan telah dipasarkan ke sejumlah toko di wilayah Banjarnegara.

“Pendapatan sebagai guru honorer masih terbatas, sehingga saya mencoba memanfaatkan potensi alam yang ada di sekitar untuk menambah penghasilan keluarga,” ujar Nurdin.

Wilayah pegunungan di Kecamatan Pandanarum memang dikenal memiliki potensi alam yang melimpah. Salah satunya tanaman glagah yang tumbuh subur di lahan-lahan terjal dan kawasan jurang.

Melihat ketersediaan bahan baku yang melimpah, Nurdin mulai menekuni usaha pembuatan sapu glagah secara mandiri. Seiring berjalannya waktu, produknya mulai dikenal masyarakat karena kualitasnya yang cukup baik dan tahan lama.

Proses pembuatan sapu glagah masih dilakukan secara manual. Tahapan produksi diawali dengan mengambil tangkai glagah dari lereng pegunungan, kemudian dikeringkan sebelum dipilah berdasarkan kualitasnya.

Setelah itu, bahan baku dirangkai dan diikat secara teliti agar menghasilkan sapu yang kuat serta tidak mudah rontok saat digunakan.

Meski terlihat sederhana, proses tersebut membutuhkan ketelatenan dan waktu yang tidak sedikit. Kualitas bahan baku menjadi salah satu faktor penting untuk menghasilkan sapu yang baik.

“Yang paling penting pemilihan glagahnya. Kalau bahan bakunya bagus, hasil sapunya juga lebih awet,” kata Nurdin.

Dalam sehari, Nurdin mampu memproduksi hingga 50 buah sapu glagah. Produk tersebut kemudian dipasarkan ke sejumlah toko dan pengepul di wilayah Banjarnegara.

Usaha tersebut menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber daya alam lokal yang selama ini belum banyak dimanfaatkan secara optimal.

Namun demikian, Nurdin mengaku masih menghadapi kendala dalam pemasaran. Hasil produksi yang cukup banyak belum sepenuhnya dapat terserap pasar sehingga stok terkadang masih menumpuk.

Ia berharap ada dukungan dari berbagai pihak untuk membantu memperluas pemasaran produk kerajinan sapu glagah agar usaha yang dijalankannya dapat berkembang lebih besar. (jkw)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....