Cegah Erosi, BEM Unsoed Gandeng DLH Banyumas Edukasi Warga Melung
- 07 Jun 2026 15:13 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Kementerian Analisis Isu Strategis BEM Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) 2026 bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas menggelar kegiatan Berkumpul untuk Berdialog (BULOG) 2026 di Aula Desa Melung, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Sabtu 6 Juni 2026.
Kegiatan bertema “Udan Teka, Lemah Melung Kudu Dijaga: Cegah Erosi Lahan, Selamatkan Ruang Bersama” berlangsung sebagai forum terbuka antara mahasiswa dan warga. Diskusi difokuskan pada mitigasi bencana tanah longsor sebagai langkah awal membangun desa tangguh bencana, meskipun titik rawan erosi saat ini masih jauh dari permukima.
Ketua panitia pelaksana Fajar Rizky dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik FISIP angkatan 2025 yang mewakili Kabinet KAUSA CIPTA Kementerian Analisis Isu Strategis BEM UNSOED, menyampaikan bahwa tema “Udan Teka, Lemah Melung Kudu Dijaga” bermakna hujan datang, tanah Melung harus dijaga. Tema tersebut merupakan panggilan aksi kolektif yang memadukan kearifan lokal Banyumasan dengan pendekatan ekologis. Curah hujan tinggi di Desa Melung memicu aliran permukaan run-off dan erosi tanah. Erosi Harus Dicegah Sejak Awal
Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda DLH Kabupaten Banyumas, R. Stephanus Sigit, S.P., S.Hut., menegaskan pentingnya pencegahan erosi sejak dini. “Kerusakan struktur tanah dapat meluas dan berpotensi memicu longsor. Akar menahan tanah, daun menahan hujan,”.
Konservasi Tanah dan Air (KTA) perlu dilakukan untuk memelihara tanah dan air dari kerusakan, seperti:
Hilangnya unsur hara dan bahan organik di daerah perakaran.
Terakumulasinya garam di daerah perakaran salinisasi yang meracuni tanaman.
Jenuhnya air pada akar atau batang bagian bawah tanaman.
Terjadinya erosi tanah.
Konservasi Tanah dan Air KTA bertujuan untuk :
Mencegah erosi.
Memperbaiki tanah yang rusak.
Memelihara dan meningkatkan produktivitas agar dapat digunakan secara berkelanjutan.
Menjamin ketersediaan air untuk generasi mendatang.
Menghemat energi untuk pemompaan air, pengiriman, dan fasilitas pengolahan air limbah.
Ada Tiga (3) Metode KTA yang daapat diterapkan warga Desa Melung :
Metode Vegetatif
Menggunakan tanaman, bagian tanaman, atau sisa tanaman untuk mengurangi daya tumbuk butir hujan serta kecepatan aliran permukaan sehingga erosi berkurang. Teknik yang dapat diterapkan:
Pertanaman lorong alley cropping mengikuti garis kontur sebagai pagar hidup.
Sistem silvopastura dengan tumpangsari menanam rumput gajah di bawah tegakan pohon.
Pemberian mulsa untuk menutup permukaan tanah agar terhindar dari pukulan butiran hujan sekaligus menambah unsur hara.
Metode Mekanik
Perlakuan fisik dan pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan, menahan erosi, dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah. Teknik yang dapat diterapkan:
Pengolahan tanah.
Pembuatan guludan atau pematang tanah sejajar garis kontur.
Pembuatan teras untuk memperpendek panjang lereng dan memperkecil kemiringan.
Pembuatan tanggul penghambat atau cek dam untuk mengendalikan sedimen dan aliran permukaan.
Pembuatan rorak untuk menjebak dan meresapkan air ke dalam tanah serta menampung sedimen.
Perbaikan drainase untuk mengalirkan dan membuang kelebihan air.
Pembuatan sumur resapan untuk menampung air hujan dari atap rumah dan meresapkannya ke tanah, dan
Pembuatan lubang resapan biopori untuk mengatasi genangan air dan meningkatkan daya resap tanah.
Metode Kimia
Memanfaatkan bahan kimia sebagai pemantap tanah untuk memperbaiki struktur tanah pasca-erosi.
Metode ini efektif dan cepat, namun membutuhkan biaya tinggi serta dosis tepat agar tidak mencemari tanah.
Kegiatan ditutup dengan ajakan kepada warga Desa Melung dan semua peserta dari BEM Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) 2026 untuk memulai dari tindakan sederhana seperti membuat lubang biopori, menanam pohon, dan menutup tanah dengan mulsa demi menjaga kelestarian lingkungan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....