Petani Cabai Banyumas Diminta Siapkan Strategi Hadapi Musim Kemarau

  • 04 Jun 2026 10:25 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Memasuki musim kemarau, petani cabai di Kabupaten Banyumas diimbau untuk mulai menyiapkan strategi budidaya agar hasil panen tetap optimal. Ketersediaan air, pengendalian hama, hingga pola perawatan tanaman menjadi faktor penting yang harus dipersiapkan sejak awal untuk menghadapi potensi kemarau panjang.

Praktisi pertanian menyebut, budidaya cabai sebenarnya tidak membutuhkan volume air terlalu besar dibanding komoditas pertanian lain. Namun demikian, kebutuhan air tetap menjadi faktor penting, terutama untuk penyemprotan, pemupukan, dan perawatan tanaman selama fase pertumbuhan.

“Tanaman cabai tidak terlalu membutuhkan air dalam jumlah besar, tetapi tetap harus tersedia untuk penyepraian dan pengocoran pupuk. Saat musim kemarau, biasanya perawatan dilakukan dengan sistem kocor agar nutrisi tanaman tetap terjaga,” katanya kembali.

Selain pengairan, petani juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan hama, khususnya jenis serangga atau insek yang kerap meningkat saat musim kemarau. Pengendalian hama dinilai perlu dilakukan lebih ketat agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu.

Petani cabai di Banyumas disebut telah cukup berpengalaman menghadapi pola cuaca ekstrem. Sebagian besar petani bahkan telah menyesuaikan jadwal tanam dengan memanfaatkan informasi prakiraan cuaca dari BMKG.

Umumnya, petani mulai menanam sekitar 40 hari sebelum musim kemarau tiba agar tanaman memperoleh cukup air pada fase vegetatif awal. “Petani biasanya sudah menghitung waktu tanam berdasarkan informasi cuaca. Mereka menanam sebelum musim kemarau datang supaya kebutuhan air di awal pertumbuhan tercukupi,” katanya.

Saat memasuki fase generatif atau pembuahan, petani cenderung mengoptimalkan sistem pengairan hemat air, seperti metode kocor. Untuk mengantisipasi keterbatasan air, sejumlah petani juga mulai menyiapkan cadangan air melalui kolam penampungan, sumur bor, tandon air, hingga memanfaatkan jaringan irigasi yang tersedia.

Pengalaman menghadapi musim kemarau panjang beberapa tahun terakhir menjadi modal penting bagi petani cabai di Banyumas. Meski demikian, persiapan ekstra tetap diperlukan, terutama dalam memastikan pasokan air untuk perawatan tanaman dan memperketat standar operasional budidaya.

Tak hanya itu, penggunaan pupuk organik yang mampu menyimpan cadangan air di dalam tanah juga mulai diperbanyak. Beberapa petani bahkan memanfaatkan mikroorganisme hayati untuk membantu menjaga kesuburan serta kegemburan tanah selama musim kering berlangsung.

Salah satu tantangan terbesar yang diperkirakan dihadapi petani saat kemarau panjang adalah keterbatasan sumber air. Oleh karena itu, koordinasi dengan pemerintah desa, penyuluh pertanian lapangan (PPL), balai penyuluhan pertanian (BPP), hingga dinas pertanian dinilai penting untuk mendukung kebutuhan budidaya.

Pendampingan dari pemerintah juga diharapkan terus berjalan, baik dalam bentuk program penyuluhan maupun bantuan pendukung lain yang berkaitan dengan pengelolaan air dan perawatan tanaman.

“Persiapan menghadapi kemarau tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan komunikasi dan pendampingan dari pihak terkait agar petani bisa tetap produktif dan hasil panen cabai tetap maksimal,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....