Dinkes Banyumas Waspadai Peningkatan Penyakit Akibat Perubahan Iklim

  • 03 Jun 2026 10:41 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO. ID, Banyumas: Perubahan iklim yang terjadi belakangan ini mulai memberikan dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat, termasuk di Kabupaten Banyumas. Kondisi geografis wilayah yang beragam, mulai dari pegunungan hingga dataran rendah, dinilai membuat Banyumas memiliki tantangan tersendiri dalam menghadapi risiko penyakit akibat perubahan cuaca.

Hal tersebut disampaikan Sanitarian Ahli Muda Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes dan KB) Kabupaten Banyumas, Imam Subagio. Ia mengatakan perubahan iklim tidak terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi sejumlah faktor yang pada akhirnya berdampak terhadap pola penyakit di masyarakat.

Menurutnya, karakteristik wilayah Banyumas yang memiliki bentang alam beragam menyebabkan potensi risiko kesehatan juga berbeda di setiap daerah. Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena perubahan iklim dapat memicu peningkatan sejumlah penyakit tertentu.

“Di Kabupaten Banyumas ada wilayah pegunungan, dataran rendah, dan pola penyakit yang berbeda-beda. Perubahan iklim ini bisa memicu meningkatnya beberapa penyakit di masyarakat,” katanya.

Imam menjelaskan, saat memasuki musim kemarau, sejumlah penyakit yang berpotensi meningkat di antaranya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan diare. Selain itu, dampak perubahan iklim terhadap sektor pangan juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat, terutama jika terjadi gagal panen akibat cuaca ekstrem.

Tidak hanya saat musim kemarau, perubahan cuaca pada masa pancaroba juga dinilai berpotensi meningkatkan kasus penyakit berbasis lingkungan. Pergantian cuaca antara hujan dan panas dapat mempercepat perkembangbiakan nyamuk penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).

“Ketika cuaca tidak menentu, kadang hujan lalu panas, itu bisa memicu munculnya jentik nyamuk yang kemudian meningkatkan risiko penyakit seperti DBD,” ucapnya.

Lebih lanjut, Imam menyebut terdapat kelompok masyarakat yang paling rentan terdampak perubahan iklim dari sisi kesehatan, yakni anak-anak, lanjut usia (lansia), dan penyandang disabilitas atau kelompok berkebutuhan khusus.

Kelompok tersebut dinilai membutuhkan perhatian lebih karena memiliki daya tahan tubuh maupun keterbatasan tertentu yang membuat mereka lebih mudah terdampak penyakit saat kondisi cuaca berubah.

Untuk mengurangi risiko kesehatan akibat perubahan iklim, masyarakat diimbau mulai menerapkan langkah-langkah sederhana dari lingkungan rumah. Salah satunya dengan membuat sumur resapan untuk meningkatkan daya serap air dan mengurangi dampak lingkungan akibat berkurangnya lahan terbuka hijau.

Selain itu, masyarakat juga diminta aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), tidak hanya mengandalkan kader kesehatan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama di tingkat keluarga.

“Perilaku hidup bersih dan sehat perlu ditanamkan sejak dini pada anak-anak, mulai dari menjaga kebersihan rumah hingga membiasakan pola hidup sehat,” katanya.

Imam juga mengingatkan pentingnya kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, termasuk tidak membuang sampah sembarangan yang dapat memicu berbagai persoalan kesehatan. Menurutnya, perubahan iklim tidak bisa dihadapi sendiri, melainkan membutuhkan kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap sehat agar risiko penyakit dapat ditekan.

“Hal sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan hidup sehat menjadi langkah penting dalam menghadapi ancaman perubahan iklim,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....