Banyumas Penopang Ekspor Gula Semut Nasional, UGM Perkuat Kualitas Produksi

  • 01 Jun 2026 20:45 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Kabupaten Banyumas menjadi salah satu sentra produksi gula semut terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 40 hingga 50 persen terhadap produksi gula kelapa nasional. Untuk mendukung daya saing komoditas tersebut di pasar ekspor, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM) menerapkan teknologi pengolahan gula semut bagi petani di Kecamatan Cilongok.

Program tersebut dilakukan melalui penerapan teknologi evaporator dan kristalisator tepat guna di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Kegiatan pengabdian masyarakat berbasis riset itu ditujukan untuk meningkatkan kualitas, konsistensi, dan kapasitas produksi gula semut agar mampu memenuhi kebutuhan pasar ekspor yang terus berkembang.

Ketua tim pelaksana, Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P., mengatakan pelatihan bertajuk Penerapan Evaporator dan Kristalisator Tepat Guna untuk Meningkatkan Mutu dan Kuantitas Ekspor Gula Semut dari Nira Kelapa Genjah di Cilongok, Banyumas digelar selama tiga hari, mulai 31 Mei hingga 2 Juni 2026 di Desa Pageraji. Kegiatan tersebut diikuti puluhan petani penderes dari berbagai desa di Kecamatan Cilongok.

"Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan PT Integral Mulia Cipta (PT IMC) sebagai mitra industri, GIZ sebagai mitra penguatan budidaya berkelanjutan, dan Kopipo (Koperasi Integrasi Petani Organik). PT IMC merupakan eksportir gula semut yang bermitra dengan ribuan petani di berbagai wilayah Jawa Tengah, salah satunya adalah Kopipo," kata Sri dalam keterangan yang diterima RRI, Senin (1/6/2026).

Menurut Sri Rahayoe, peningkatan kualitas gula semut menjadi kebutuhan penting seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap pemanis alami tersebut, baik di tingkat nasional maupun internasional. Gula semut dinilai memiliki berbagai keunggulan, seperti mudah larut, praktis digunakan, memiliki masa simpan lebih panjang, serta banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, minuman, dan produk organik.

Ia menjelaskan, Indonesia saat ini merupakan salah satu produsen sekaligus eksportir gula kelapa terbesar di dunia. Berdasarkan data Volza Export Trade Data periode 2024–2025, Indonesia mencatat lebih dari 4.200 pengiriman ekspor gula kelapa ke 73 negara tujuan. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai eksportir terbesar dunia untuk komoditas gula kelapa.

Dalam rantai pasok nasional tersebut, Banyumas memegang peran yang cukup besar. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Banyumas, daerah ini mengekspor sekitar 5.342 ton gula semut sepanjang 2024. Jumlah tersebut menjadikan Banyumas sebagai salah satu daerah terpenting dalam produksi dan ekspor gula semut nasional.

Meski memiliki potensi pasar yang besar, produksi gula semut di tingkat petani masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah ketidakseragaman mutu produk akibat proses produksi yang masih dilakukan secara konvensional. Proses evaporasi nira umumnya masih mengandalkan metode tradisional, sementara proses kristalisasi banyak bergantung pada pengalaman produsen.

"Kondisi tersebut dapat menyebabkan variasi warna, tekstur, kadar air, dan ukuran partikel gula semut antarbatch sehingga berpotensi menurunkan daya saing produk di pasar. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar untuk menghasilkan gula semut yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan pasar nasional maupun internasional," ujarnya.

Melalui program ini, UGM memperkenalkan teknologi evaporator berpengaduk mekanis dan kristalisator putar yang dirancang untuk mendukung proses produksi gula semut yang lebih terukur, higienis, dan konsisten. Evaporator digunakan untuk mengentalkan nira hingga mencapai kondisi siap kristalisasi dengan suhu yang lebih terkendali. Sementara kristalisator membantu mempercepat proses pembentukan kristal gula semut agar hasilnya lebih seragam.

Selain pengenalan teknologi, peserta juga mendapatkan pelatihan sanitasi dan higiene pengolahan gula berbasis nira kelapa, karakterisasi gula dari nira kelapa, penanganan pascapanen nira kelapa, hingga praktik pengolahan gula semut menggunakan evaporator dan kristalisator yang dikembangkan tim FTP UGM.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan mitra internasional UGM dari Universiti Putra Malaysia (UPM) yang berbagi praktik terbaik pengolahan kelapa di Malaysia. Sementara PT IMC memberikan sesi berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan pasar ekspor gula semut.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, koperasi petani, dan mitra internasional, program ini diharapkan mampu memperkuat rantai produksi gula semut Banyumas dari hulu hingga hilir, mulai dari penyediaan bahan baku, proses produksi, hingga pengendalian mutu produk akhir.

"Penerapan teknologi evaporator dan kristalisator ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki konsistensi mutu gula semut di tingkat petani," tutur Sri Rahayoe.

Dengan proses produksi yang lebih terkendali, kualitas gula semut diharapkan menjadi lebih seragam, mampu mengurangi produk off-grade, serta memperkuat daya saing ekspor komoditas unggulan Banyumas tersebut di pasar global.

Program ini dipimpin oleh Dr. Sri Rahayoe dari Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM bersama tim dosen lintas bidang yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc., Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., serta mitra akademik internasional Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin dari Universiti Putra Malaysia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....