PSGA UIN Saizu Gelar Workshop Gender, Bahas Pencegahan Kekerasan Seksual di Kampus

  • 31 Mei 2026 22:46 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto menggelar Workshop Gender Berbasis Projek Kolaborasi bagi mahasiswa di Ruang Rapat Lantai 4 Gedung Rektorat UIN Saizu, Selasa (26/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai fakultas sebagai upaya meningkatkan pemahaman tentang isu gender dan pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus.

Workshop menghadirkan tiga narasumber, yakni dosen sekaligus anggota Satgas PPKS UIN Saizu Pangestika Rizki Utami, psikolog klinis Mazaya Conita Widaputri, serta sosiolog Universitas Jenderal Soedirman Dr. Tyas Retno Wulan. Kegiatan juga dihadiri Ketua LPPM UIN Saizu Prof. Ansori dan Ketua PSGA UIN Saizu Dr. Ida Novianti.

Dalam sambutannya, Prof. Ansori menegaskan pentingnya edukasi gender dan pencegahan kekerasan seksual sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan kampus yang aman. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen kampanye dalam mendorong kesadaran dan pencegahan kekerasan seksual.

“Secara tidak langsung kita bisa mencegah dan menjadi juru kampanye kekerasan seksual. Karena itu saya mengharapkan kegiatan ini dilakukan secara seksama dan ketika ada di antara kita di lapangan mendapatkan hal-hal yang berkaitan dengan kekerasan seksual, kita punya wadah yaitu Pusat Studi Gender dan Anak dan di bawahnya ada Satgas PPKS,” ujarnya.

Pada sesi pertama, Pangestika Rizki Utami memaparkan teori gender serta perbedaan antara seks yang bersifat biologis dengan gender yang merupakan konstruksi sosial dan budaya. Ia menjelaskan berbagai bentuk ketidakadilan gender masih terjadi di masyarakat, mulai dari stereotip hingga kekerasan berbasis gender.

“Perempuan sering dianggap sebagai pihak yang bersalah dalam kasus kekerasan seksual. Ini merupakan bentuk stigma yang masih terjadi di masyarakat,” ucapnya menjelaskan.

Sementara itu, Mazaya Conita Widaputri menjelaskan pentingnya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa kekerasan seksual mencakup segala bentuk tindakan atau perilaku seksual yang tidak diinginkan korban, baik secara verbal maupun fisik.

“Pencegahan kekerasan seksual harus dilakukan bersama-sama oleh individu, keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, dan negara,” ujar Mazaya.

Mazaya juga menyoroti fenomena rape culture atau budaya pemerkosaan yang masih kerap ditemukan dalam kehidupan sosial. Menurutnya, penanganan korban tidak hanya berfokus pada proses hukum, tetapi juga harus disertai pendampingan psikologis dan dukungan sosial yang memadai.

Pada sesi terakhir, Dr. Tyas Retno Wulan memberikan pelatihan penulisan esai argumentatif yang membahas teknik penyusunan pendahuluan, penguatan argumen berbasis data, hingga penyusunan kesimpulan yang sistematis. Peserta kemudian mempraktikkan penulisan esai sebagai bagian dari penguatan kapasitas akademik dan advokasi isu gender.

Melalui workshop tersebut, PSGA UIN Saizu berharap mahasiswa semakin memahami isu gender dan mampu menjadi bagian dari upaya pencegahan kekerasan seksual. Kegiatan ini juga diharapkan memperkuat kesadaran kolektif dalam mewujudkan lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan responsif gender.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....