Dinkes Banyumas Tingkatkan Kewaspadaan Ancaman Penyakit dari Tikus
- 29 Mei 2026 15:22 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes dan KB) Kabupaten Banyumas mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan tikus. Termasuk potensi ancaman hantavirus, meskipun hingga saat ini kasus penyakit tersebut belum ditemukan di wilayah Banyumas.
Di mana keberadaan tikus yang hidup berdampingan dengan manusia membuat potensi penyebaran penyakit cukup besar apabila membawa bibit penyakit tertentu. Hal tersebut disampaikan Tim Kerja Penyakit Menular Dinkes dan KB Kabupaten Banyumas, Arief Burhanudin, SKM., MPH.
Menurutnya, tikus merupakan hewan yang sangat dekat dengan lingkungan permukiman masyarakat, baik di perkotaan maupun pedesaan. Faktor ketersediaan makanan dan tempat berlindung menjadikan tikus mudah berkembang di sekitar rumah warga.
“Potensi penyebaran penyakit memang cukup besar apabila bibit penyakitnya ada. Di Banyumas sendiri penyakit yang sudah jelas dibawa oleh tikus salah satunya adalah leptospirosis, dan kasusnya cukup banyak ditemukan,” ujarnya.
Meski demikian, Arief menegaskan bahwa hantavirus hingga kini belum terlaporkan di Kabupaten Banyumas. Namun masyarakat tetap diminta mengenali gejala awal penyakit tersebut sebagai langkah antisipasi.
Gejala hantavirus secara umum menyerupai infeksi virus lainnya, seperti demam, menggigil, dan gejala mirip influenza. Namun salah satu faktor yang perlu diperhatikan ialah adanya riwayat kontak dengan tikus atau lingkungan yang terkontaminasi.
"Masyarakat jangan langsung panik apabila mengalami demam setelah melihat atau bersentuhan dengan tikus. Sebab untuk memastikan seseorang terinfeksi hantavirus diperlukan pemeriksaan medis melalui laboratorium atau tes PCR," kata Arif, menjelaskan.
Dalam upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit yang ditularkan tikus, Dinkes Banyumas juga terus menggalakkan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun yang sempat masif dilakukan saat pandemi Covid-19 juga diminta tetap dipertahankan.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk meminimalkan keberadaan tikus di rumah dengan menutup akses masuk tikus, termasuk lubang saluran air, got, maupun pipa yang memungkinkan menjadi jalur pergerakan tikus. Warga juga diminta menjaga kebersihan lingkungan, terutama dalam pengelolaan makanan dan sampah rumah tangga.
"Sampah sebaiknya disimpan di tempat tertutup agar tidak mengundang tikus datang ke permukiman," ucapnya.
Arief menyebut wilayah Cilongok menjadi salah satu daerah dengan temuan kasus cukup tinggi, terutama untuk leptospirosis. Selain itu, kasus juga ditemukan di wilayah Sumpiuh, Kemranjen, dan Somagede.
Dinkes Banyumas juga mengingatkan tingginya mobilitas masyarakat saat ini memungkinkan penyebaran penyakit lintas daerah hingga antarnegara berlangsung lebih cepat. Kondisi tersebut perlu diantisipasi mengingat tikus dapat menjadi reservoir atau inang penyakit tanpa menunjukkan gejala sakit, namun tetap mampu menyebarkan virus.
Sebagai langkah pencegahan tambahan, masyarakat disarankan menggunakan masker saat membersihkan rumah, terutama ketika menyapu area yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus, guna mengurangi risiko paparan debu maupun penyakit.
Dinkes Banyumas berharap masyarakat tidak panik, namun tetap waspada dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan untuk mencegah risiko penularan penyakit yang berasal dari tikus. Sebagai langkah pencegahan tambahan, masyarakat disarankan menggunakan masker saat membersihkan rumah,
"Terutama ketika menyapu area yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus, guna mengurangi risiko paparan debu maupun penyakit," ujarnya.
Sehingga Dinkes Banyumas berharap masyarakat tidak panik, namun tetap waspada dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan untuk mencegah risiko penularan penyakit yang berasal dari tikus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....