Waspada Kekeringan, BMKG Prediksi Musim Kemarau Banyumas Lebih Panjang
- 20 Mei 2026 09:44 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di wilayah Banyumas dan sekitarnya akan berlangsung lebih panjang dibanding kondisi normal. Perbedaan awal musim kemarau pun diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah Banyumas berdasarkan karakteristik zona musim masing-masing.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Tunggul Wulung Cilacap, Bagus Pramujo, menjelaskan bahwa awal musim kemarau di Kabupaten Banyumas terbagi dalam dua periode berbeda. Untuk wilayah Banyumas bagian barat dan selatan, musim kemarau diprakirakan mulai pada dasarian kedua Mei 2026, atau sekitar 11 hingga 20 Mei.
Sementara itu, wilayah Banyumas bagian tengah, timur, dan utara diprediksi baru memasuki musim kemarau pada dasarian kedua Juni 2026. “Perbedaan ini terjadi karena zona musim di masing-masing wilayah memang berbeda,” ujar Bagus.
Tidak hanya soal waktu kedatangan, durasi musim kemarau tahun ini juga diprediksi lebih lama dibanding biasanya. Menurut Bagus, kondisi normal yang dijadikan acuan BMKG merujuk pada rata-rata pengamatan iklim selama 30 tahun, yakni periode 1991 hingga 2020.

Untuk Banyumas bagian selatan dan barat, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih panjang hingga tiga dasarian atau sekitar satu bulan lebih lama dari normal, bahkan berpotensi berlangsung hingga November 2026. Sedangkan wilayah tengah dan timur Banyumas diperkirakan mengalami tambahan durasi satu dasarian, sementara wilayah utara lebih panjang sekitar dua dasarian.
BMKG mencatat terdapat dua faktor utama yang memengaruhi kondisi musim kemarau lebih panjang tahun ini, yakni menguatnya fenomena El Nino dan Dipole Mode Index (DMI) positif. Bagus menjelaskan, kondisi El Nino lemah hingga moderat diprediksi bertahan hingga akhir tahun dan menyebabkan massa udara di Indonesia tertarik ke wilayah timur Samudra Pasifik.
Sementara DMI positif membuat massa udara di wilayah Indonesia bagian barat bergerak ke arah Samudra Hindia. Kombinasi dua fenomena tersebut menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan di Indonesia, termasuk wilayah Banyumas, sehingga curah hujan diprakirakan berada di bawah normal dibanding rerata tahunan.
“Dengan berkurangnya massa udara di wilayah Indonesia, maka musim kemarau menjadi lebih panjang dan curah hujan diprediksi di bawah normal,” katanya.
BMKG menilai informasi cuaca dan iklim memiliki peran penting dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat, mulai dari pertanian, keselamatan transportasi, hingga kebijakan ekonomi. Di sektor pertanian misalnya, prakiraan musim dapat menjadi dasar bagi petani dalam menentukan waktu tanam maupun memilih varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi iklim.
Selain itu, informasi cuaca juga penting bagi keselamatan aktivitas pelayaran maupun masyarakat umum agar dapat mengantisipasi potensi dampak cuaca ekstrem. Bagus mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau panjang.
Salah satunya melalui pengelolaan penggunaan air secara bijak, mengingat cadangan air berpotensi menurun selama musim kemarau. Masyarakat juga diminta menjaga kesehatan karena udara kering dan debu berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan maupun iritasi kulit.
Selain itu, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat vegetasi kering yang mudah terbakar, terlebih saat disertai angin kencang.
“Jangan membakar sampah ataupun lahan secara sembarangan, karena api bisa cepat merembet saat kondisi vegetasi sangat kering,” katanya.
BMKG juga mengajak masyarakat untuk rutin memperbarui informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi BMKG. Hal ini dilakukan guna mengetahui perkembangan kondisi musim kemarau maupun potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah masing-masing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....