Hari Buku Nasional Jadi Momentum Perkuat Budaya Literasi

  • 18 Mei 2026 13:35 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Peringatan Hari Buku Nasional 2026 kembali menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya budaya membaca di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat. Literasi dinilai tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas masyarakat dan perkembangan peradaban.

Menurut pegiat literasi, yang juga dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unsoed Dr. Edi Santoso, saat ini, gerakan literasi di masyarakat mulai menunjukkan perkembangan positif. Berbagai taman bacaan masyarakat, komunitas membaca, hingga diskusi buku mulai banyak bermunculan, khususnya di wilayah perkotaan dan kalangan anak muda.

“Saya kira inisiasi-inisiasi untuk meningkatkan literasi meningkat, terutama di kawasan perkotaan, kelas menengah, yang ditunjukkan antara lain dengan semakin banyaknya taman bacaan masyarakat,” ujar Dr. Edi Santoso kepada RRI, Senin (18/5/2026).

Kehadiran komunitas-komunitas tersebut dinilai menjadi tanda bahwa masyarakat masih memiliki kesadaran untuk menjaga dan meningkatkan minat baca. Berbagai kegiatan literasi yang dikemas secara santai dan menarik juga mulai banyak diminati masyarakat.

Di sisi lain, perkembangan internet dan media sosial menjadi tantangan besar dalam menumbuhkan budaya membaca buku. Edi menilai, konten digital yang cepat, instan, dan interaktif membuat banyak orang lebih memilih menghabiskan waktu di media sosial dibanding membaca buku.

“Tantangan terbesar menurut saya adalah teknologi ya, terutama internet. Karena internet menawarkan banyak hal-hal yang membuat orang itu enggan membaca, karena sifatnya yang interaktif, yang atraktif, yang instan,” ucapnya.

Meski begitu, menurut Edi, akses terhadap buku dan sumber bacaan saat ini dinilai semakin mudah dijangkau masyarakat. Perpustakaan daerah terus meningkatkan fasilitas dan koleksi buku, ditambah dengan layanan perpustakaan keliling yang masih berjalan di sejumlah daerah.

Selain itu, perkembangan koleksi digital juga membuat masyarakat dapat mengakses bahan bacaan kapan saja dan di mana saja melalui aplikasi maupun internet. Bahkan, beberapa kafe dan ruang publik mulai menyediakan buku sebagai sarana membaca bagi pengunjung.

“Saya kira relatif mudah sekarang ya. Ada perpustakaan daerah, koleksinya semakin bertambah, tempatnya nyaman, cukup luas. Ditambah munculnya gerakan-gerakan kultural dari masyarakat sendiri dengan banyaknya TBM,” jelasnya.

Komunitas literasi juga dianggap memiliki peran penting dalam mendukung upaya pemerintah meningkatkan budaya membaca. Gerakan yang tumbuh dari masyarakat dinilai lebih mudah diterima karena hadir langsung dari lingkungan sekitar dan dilakukan secara konsisten.

Edi menambahkan, untuk menarik perhatian anak-anak dan remaja, kegiatan literasi perlu dibuat lebih kreatif dan menyenangkan. Kegiatan seperti bedah buku, lomba literasi, hingga menulis bersama dinilai dapat membantu generasi muda lebih dekat dengan buku meskipun kesehariannya lekat dengan gadget. (Ilham Ramdhani).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....