BMKG: Kemarau 2026 Banyumas Raya Mundur hingga Juni

  • 08 Mei 2026 09:37 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Tengah memprediksi musim kemarau tahun 2026 di wilayah Jawa Tengah umumnya mulai terjadi pada Mei 2026. Namun, untuk sejumlah wilayah di Banyumas Raya diperkirakan mengalami awal musim kemarau lebih lambat, yakni hingga pertengahan Juni 2026.

Dalam rilis Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 Provinsi Jawa Tengah, BMKG menyebut wilayah yang diperkirakan paling akhir memasuki musim kemarau meliputi sebagian wilayah Kabupaten Banyumas, Purbalingga, dan Banjarnegara. Selain itu, sebagian kecil wilayah Brebes, Tegal, Pemalang, dan Kebumen juga diprediksi mengalami kondisi serupa.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan secara umum awal musim kemarau tahun ini diprediksi maju hingga sama dengan kondisi normalnya. Sementara sifat hujan selama musim kemarau diperkirakan berada pada kategori bawah normal.

“Puncak musim kemarau diprediksi umumnya terjadi pada Agustus 2026,” tulis BMKG dalam keterangannya.

BMKG menjelaskan kondisi iklim global saat ini masih dipengaruhi fenomena ENSO Netral dengan indeks minus 0,28 dan diperkirakan bertahan hingga Semester I tahun 2026. Meski demikian, terdapat peluang munculnya fenomena El Nino mulai awal Semester II tahun 2026.

Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole atau IOD berada dalam kondisi netral dan diprediksi berlanjut hingga pertengahan tahun. Suhu muka laut di perairan Indonesia pada periode Maret hingga Agustus 2026 juga diperkirakan cenderung normal hingga lebih hangat, dengan anomali berkisar antara 0,5 hingga 2 derajat Celsius.

BMKG juga memperkirakan Monsun Australia mulai dominan pada Mei 2026, yang menjadi salah satu penanda memasuki musim kemarau di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa Tengah. Untuk durasi musim kemarau tahun ini, BMKG memprediksi umumnya berlangsung selama 16 hingga 18 dasarian atau sekitar lima sampai enam bulan.

Bahkan di beberapa wilayah seperti sebagian kecil Kabupaten Pati dan Rembang, musim kemarau dapat berlangsung hingga delapan sampai sembilan bulan. Memasuki masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.

Seperti halnya hujan lebat berdurasi singkat, petir, angin kencang hingga puting beliung yang dapat memicu bencana hidrometeorologi. BMKG juga meminta masyarakat tetap antisipatif terhadap dampak perubahan cuaca, terutama di wilayah rawan bencana banjir, longsor, maupun pohon tumbang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....