Waspada Gunung Slamet, Akademisi Tekankan Edukasi dan Mitigasi

  • 06 Mei 2026 15:23 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Status Gunung Slamet yang berada pada level Waspada (Level II) menjadi sinyal bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan tanpa harus panik. Dosen Jurusan Teknik Geologi Unsoed Purwokerto, Dr. Ir. Sachrul Iswahyudi, ST., MT. menilai kondisi ini merupakan bagian dari dinamika aktivitas gunung api yang masih berada di atas normal, namun belum dalam tahap darurat.

Status Waspada menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di bawah permukaan gunung. Namun, Sachrul menghimbau masyarakat tidak perlu merasa panik dengan kondisi tersebut, melainkan tetap meningkatkan kewaspadaan.

“Kalau waspada itu ibaratnya orang sedang flu, batuk-batuk, walaupun belum sampai darurat sekali. Jadi, pada kondisi itu kewaspadaan meningkat, lebih waspada sedikit daripada status biasa,” jelasnya saat diwawancarai RRI pada Selasa, (5/5/2026).

Lebih lanjut, Gunung Slamet memiliki karakteristik erupsi yang relatif kecil hingga menengah dan jarang bersifat eksplosif besar. Meski secara visual tampak tenang, aktivitas di dalam perut bumi tetap berlangsung dan hanya dapat terdeteksi melalui alat pemantauan.

Peningkatan aktivitas biasanya terjadi secara bertahap, ditandai dengan frekuensi dan kekuatan gempa yang meningkat, hingga perubahan pada sumber air panas dan hembusan uap di sekitar kawah.

“Mungkin skenario berikutnya yang lebih intensif lagi selain kegempaannya yang semakin sering, kalau di mata air-mata air panas yang ada misalnya di Pancuran 7, itu suhunya semakin tinggi. Kalau kita lihat di visualnya, hembusan awannya itu, uapnya semakin banyak misalnya,” ujarnya.

Dalam konteks tersebut, peran akademisi dinilai sangat penting, terutama dalam menjembatani informasi teknis kepada masyarakat. Ia menekankan bahwa masyarakat perlu mengakses informasi dari sumber resmi agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Terakhir, ia menambahkan, upaya mitigasi bencana juga perlu dilakukan secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Mulai dari pembaruan peta kawasan rawan bencana, penyesuaian standar operasional prosedur, hingga penataan jalur evakuasi. (Aisha)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....