Edukasi Budaya Lokal Dikemas Menarik lewat Film Babad Baturraden
- 05 Mei 2026 20:31 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Film animasi Babad Baturraden hadir sebagai media edukasi untuk mengenalkan sejarah dan budaya lokal kepada masyarakat Banyumas, khususnya generasi muda.
Karya ini digagas oleh tim SMP Telkom Purwokerto sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memperingati hari ulang tahun ke-10 sekolah, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Tujuan dari film ini adalah sebagai edukasi untuk masyarakat Banyumas agar lebih mengenal sejarah dan budaya lokalnya,” ujar Deuis Nur Astrida selaku sutradara dan penulis naskah.
Cerita yang diangkat berfokus pada asal-usul kawasan wisata Baturraden yang selama ini dikenal luas, namun belum banyak dipahami sejarahnya oleh masyarakat.
Melalui pendekatan visual animasi, penonton diajak memahami latar belakang sejarah, tokoh-tokoh penting, serta peninggalan yang masih dapat ditemukan hingga saat ini.
“Akan lebih menarik jika kita berkunjung ke suatu tempat sekaligus mengetahui cerita di baliknya,” kata Deuis.
Film ini juga menampilkan berbagai situs bersejarah seperti Pancuran Tujuh, petilasan Mbah Atas Angin, hingga makam tokoh penting yang berkaitan dengan cerita. Dengan visualisasi tersebut, penonton dapat lebih mudah mengaitkan cerita sejarah dengan kondisi nyata di lapangan.
“Jadi ketika melihat tempatnya, masyarakat bisa tahu bahwa itu bagian dari sejarah yang diceritakan,” ucap Deuis.
Selain sebagai sarana edukasi, film ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal. Khususnya bagi generasi muda, film ini menjadi jembatan untuk memahami sejarah dengan cara yang lebih menarik dan modern.
“Harapannya generasi muda lebih memahami dan tidak meninggalkan budaya serta kearifan lokal Banyumas,” tutur Deuis.
Film Babad Baturraden resmi dirilis pada Selasa (5/5/2026). Peluncuran dilaksanakan di mini teater Citra Vistara Kantor Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Banyumas.
Kepala Bidang Perpustakaan Dinarpusda Banyumas Fuad Zein Arifin menilai, film tersebut tidak hanya menjadi karya kreatif pelajar, tetapi juga menunjukkan sinergi antara institusi pendidikan dan pemerintah daerah dalam melestarikan sejarah lokal melalui media digital.
“Kami hanya memfasilitasi rencana itu, sehingga pelaksanaan ini bisa terlaksana dengan lancar, termasuk menyediakan sumber-sumber referensi dari awal,” kata Fuad.
Sejak tahap awal, Dinarpusda berperan sebagai fasilitator yang membantu kebutuhan tim produksi, mulai dari penyediaan referensi hingga ruang diskusi dalam pengembangan ide.
Proses pendampingan juga dilakukan saat film telah memasuki tahap akhir. Tim produksi kembali berkonsultasi untuk memastikan konten yang disajikan tetap sesuai dengan nilai sejarah.
“Kami juga memberikan komentar terkait pembuatan filmnya, mungkin ada hal-hal yang masih perlu diperbaiki dalam proses editing,” ucapnya.
Selain pemutaran film, Arpusda juga mendokumentasikan hasil karya tersebut dalam bentuk komik dan film sebagai koleksi literasi. Komik disimpan di perpustakaan, sementara film dapat diputar untuk masyarakat secara gratis sebagai bentuk layanan publik.
“Semua ini tidak berbayar dan diharapkan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, baik dalam bentuk buku maupun film,” ujar Fuad. (Ilham Ramdhani).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....