Implementasi Proklim Tekan Risiko Terjadinya Bencana Hidrometeorologi
- 04 Mei 2026 10:27 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Program Kampung Iklim (ProKlim) di Kabupaten Banyumas mulai menunjukkan dampak nyata dalam menekan risiko bencana hidrometeorologis, khususnya banjir dan kekeringan yang selama ini menjadi ancaman serius akibat perubahan iklim. Fenomena perubahan iklim di Banyumas sendiri sudah semakin terasa, ditandai dengan meningkatnya frekuensi banjir saat musim hujan serta kekeringan panjang di musim kemarau. Kondisi ini berdampak langsung pada sektor pertanian, ketersediaan air, hingga kesehatan masyarakat.
Penyuluh Lingkungan Hidup (PELHI) Ahli Muda Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyumas, R. Stephanus Sigit S.P., S.Hut, menegaskan bahwa ProKlim hadir sebagai solusi berbasis masyarakat untuk mengurangi risiko tersebut secara konkret di tingkat desa.
“Melalui ProKlim, masyarakat tidak hanya diajak memahami perubahan iklim, tetapi juga melakukan aksi nyata untuk mengurangi dampaknya, termasuk banjir dan kekeringan,” ujarnya.
Dalam implementasinya, ProKlim mendorong berbagai langkah adaptasi yang langsung menyasar akar persoalan bencana hidrometeorologis. Salah satunya adalah pembangunan sumur resapan, biopori, dan embung yang berfungsi meningkatkan daya serap air tanah.
Langkah ini terbukti efektif dalam mengurangi limpasan air saat hujan deras, sehingga potensi banjir dapat ditekan. Di sisi lain, air yang tersimpan juga dimanfaatkan saat musim kemarau untuk mengurangi dampak kekeringan.
Selain itu, gerakan penghijauan dan penanaman pohon di kawasan rawan longsor dan bantaran sungai turut berperan dalam menjaga stabilitas tanah serta mengurangi erosi.
“Ketika tutupan lahan meningkat dan daya resap tanah baik, maka risiko banjir dan longsor bisa ditekan. Ini dampak langsung dari aksi adaptasi yang dilakukan masyarakat,” tutur Sigit.
Tidak hanya mengurangi risiko bencana, ProKlim juga memperkuat ketahanan masyarakat terhadap dampak lanjutan dari kekeringan, seperti gagal panen. Program ini juga mendorong diversifikasi tanaman yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, sehingga petani tidak sepenuhnya bergantung pada satu jenis komoditas.
Menurut Sigit, langkah-langkah tersebut terbukti membantu masyarakat bertahan di tengah ketidakpastian iklim. “Dulu saat kemarau panjang, banyak yang kesulitan air. Sekarang dengan adanya sumur resapan dan penampungan air, dampaknya bisa ditekan,” katanya.
Keberhasilan ProKlim dalam mengurangi risiko bencana tidak lepas dari pendekatan berbasis komunitas. Keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor utama dalam memastikan keberlanjutan program.
Selain itu, dukungan pemerintah daerah melalui kebijakan dan pendampingan teknis juga memperkuat implementasi di lapangan. Kabupaten Banyumas sendiri merupakan wilayah yang secara geografis rentan terhadap bencana seperti banjir, longsor, dan kekeringan, sehingga pendekatan adaptasi berbasis masyarakat menjadi sangat relevan.
Meski tidak sepenuhnya menghilangkan risiko bencana, ProKlim terbukti mampu mengurangi tingkat kerentanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Lingkungan yang lebih hijau, sistem pengelolaan air yang lebih baik, serta meningkatnya kesadaran warga menjadi indikator keberhasilan program ini di tingkat tapak.
Dengan semakin luasnya implementasi ProKlim di Banyumas, diharapkan semakin banyak desa yang mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim dan meminimalkan risiko bencana di masa mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....