Pendidikan Jadi Kunci Lawan Dampak Psikologis Budaya Patriarki

  • 28 Apr 2026 23:00 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Budaya patriarki yang telah berlangsung lama tidak hanya memengaruhi pembagian peran sosial, tetapi juga membentuk pola pikir dan kepribadian individu sejak usia dini. Perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan dalam proses tumbuh kembang dinilai menjadi awal munculnya ketimpangan, termasuk dalam cara menghadapi konflik dan membangun karakter.

Dalam praktiknya, anak perempuan kerap diajarkan untuk patuh, sementara anak laki-laki didorong untuk berani. Pola ini kemudian terbawa hingga dewasa, sehingga dalam situasi konflik, perempuan cenderung ditekan untuk mengalah, sementara laki-laki dianggap wajar bersikap dominan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa penyelesaian konflik sering kali tidak berfokus pada solusi, melainkan pada peran gender yang sudah terbentuk sejak kecil. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Nia Anggri Noveni, S.Psi., M.A., menjelaskan bahwa konstruksi sosial tersebut berperan besar dalam membentuk kepribadian.

“Sejak kecil, anak laki-laki dan perempuan belajar dari lingkungan mengenai peran gendernya. Perempuan diarahkan untuk patuh, sementara laki-laki didorong untuk berani. Ini yang kemudian memengaruhi cara mereka memandang diri dan menyelesaikan konflik,” jelasnya, dalam dialog Jaga Malam Pro 2 RRI Purwokerto, Selasa (28/04/2026).

Selain itu, budaya patriarki juga berkontribusi dalam membentuk karakteristik psikologis perempuan. Perempuan cenderung memiliki sensitivitas lebih tinggi dalam membaca emosi, menjaga hubungan sosial, serta menunjukkan empati, kemampuan komunikasi, dan pengasuhan.

Namun, di sisi lain, tuntutan sosial yang tinggi justru memunculkan beban ganda, di mana perempuan diharapkan mampu menjalankan berbagai peran sekaligus, baik sebagai ibu, istri, maupun pekerja. Menurut Nia, beban ganda tersebut dapat memengaruhi kepercayaan diri perempuan.

Salah satu upaya yang dinilai efektif untuk mengatasi dampak psikologis tersebut adalah melalui pendidikan. Pendidikan dinilai mampu mendorong perubahan struktur patriarki dengan meningkatkan kepercayaan diri, kemandirian, serta kemampuan perempuan dalam mengambil keputusan.

Keseimbangan hidup meliputi waktu untuk bekerja, beribadah, beristirahat, dan bersama keluarga dinilai sebagai hal yang sangat penting. Kesenjangan dalam upah, peluang karier, hingga normalisasi kekerasan terhadap perempuan menjadi indikator bahwa sistem sosial yang ada masih perlu diperbaiki agar lebih adil dan setara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....