Patriarki dan Beban Ganda: Perempuan Dipaksa Produktif tanpa Henti
- 28 Apr 2026 22:30 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto: Pandangan bahwa perempuan harus selalu bekerja tanpa henti dinilai tidak sejalan dengan kondisi biologis manusia. Secara alami, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama membutuhkan istirahat yang cukup, tidur berkualitas, serta asupan nutrisi yang seimbang untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.
Namun dalam praktik sosial, budaya patriarki masih kuat memengaruhi peran perempuan. Patriarki merupakan sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kekuasaan, sementara perempuan cenderung diarahkan pada peran domestik.
Sejak kecil, perempuan kerap dibiasakan untuk menjaga adik, mengerjakan pekerjaan rumah, bersikap patuh, serta tidak mengeluh. Di sisi lain, laki-laki dalam budaya ini justru memiliki ruang lebih luas untuk bermain dan beristirahat.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Nia Anggri Noveni, S.Psi., M.A., menjelaskan bahwa konstruksi sosial tersebut membentuk cara pandang perempuan terhadap dirinya sendiri. Kondisi tersebut secara perlahan membentuk cara pandang bahwa nilai seorang perempuan ditentukan dari seberapa banyak ia mampu melakukan sesuatu untuk orang lain, terutama keluarga.
“Perempuan sejak kecil menerima pesan berulang bahwa nilai dirinya ditentukan dari seberapa banyak ia bisa memberi dan melayani. Ini yang kemudian membentuk keyakinan bahwa perempuan harus selalu kuat dan produktif,” ujar Nia dalam Jaga Malam, Selasa (28/04/26).
Perempuan dituntut untuk rajin, melayani, dan mengurus kebutuhan orang di sekitarnya. Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang mengalami konflik batin ketika mengambil waktu untuk beristirahat atau saat kondisi tubuh tidak sehat.
Menurut Nia, tekanan ini kerap memunculkan perasaan bersalah pada perempuan ketika mereka berhenti sejenak. Hal ini mengakibatkan munculnya rasa bersalah dan perasaan takut dianggap pemalas pada perempuan.
Tekanan budaya juga diperkuat melalui kalimat-kalimat yang sering diulang dalam kehidupan sehari-hari, seperti tuntutan agar perempuan tidak malas atau harus selalu bekerja keras demi dianggap berharga. Pola ini membentuk keyakinan diri yang keliru, sehingga perempuan merasa takut mengecewakan orang lain, merasa tidak cukup baik, hingga menganggap istirahat sebagai bentuk kelemahan.
Situasi ini menjadi pengingat pentingnya membangun kesadaran bahwa setiap individu, tanpa memandang gender, memiliki kebutuhan dasar yang sama untuk beristirahat dan menjaga keseimbangan hidup. Perubahan cara pandang masyarakat dinilai menjadi kunci untuk mengurangi beban berlebih yang selama ini kerap dialami perempuan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....