Nimbang HP-an Mending Maca Buku: Melawan Candu Digital.

  • 28 Apr 2026 21:01 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Fenomena doom scrolling atau kebiasaan menggulir media sosial tanpa henti kini menjadi ancaman serius bagi daya kritis dan kesehatan mental generasi muda. Menanggapi isu tersebut, Academic Forum Pro 2 FM RRI Purwokerto Kamis, 23 April 2026 lalu mengupas urgensi pengalihan kebiasaan menggunakan gawai (HP-an) menjadi aktivitas membaca buku (maca buku), seiring dengan upaya pemerintah memperkuat regulasi literasi melalui kebijakan perlindungan anak di dunia digital.

Diskusi yang menghadirkan narasumber Habibi dan Pras ini menyoroti lahirnya Peraturan Pemerintah (PP) "Tunas" atau Tunggu Anak Siap. Regulasi ini dirancang untuk membatasi akses internet bagi anak di bawah usia 16 tahun guna mencegah dampak negatif dunia maya yang belum siap mereka hadapi.

Sebagai alternatif, kegiatan membaca buku diposisikan sebagai solusi utama untuk mengisi kekosongan aktivitas anak saat penggunaan gawai dibatasi. Habibi menekankan bahwa membaca satu buku merupakan cara tercepat untuk mendapatkan intisari perjalanan hidup dan pemikiran seseorang yang disusun selama bertahun-tahun.

"Penulis membuat satu buku itu prosesnya panjang, bahkan itu rangkuman perjalanan hidupnya. Dengan membaca satu buku dalam seminggu, kita sudah mendapatkan wawasan yang cukup banyak," ujar Habibi.

Sementara dari sisi psikologis, Pras menjelaskan dampak buruk dari doom scrolling yakni dapat merusak prefrontal cortex bagian otak yang mengatur kontrol diri. Hal inilah yang membuat seseorang sulit berkonsentrasi dan mudah merasa bosan saat harus memproses informasi yang lebih berat seperti buku.

"Kesenangan instan dari media sosial bikin kita candu. Membaca buku adalah cara untuk mengembalikan fungsi kontrol pikiran agar kita bisa kembali berpikir kritis," jelas Pras.

Guna mendukung gerakan ini di tingkat regional, muncul gagasan progresif untuk menyediakan fasilitas literasi di transportasi publik. Mengingat tingginya penggunaan Bus Trans Banyumas oleh pelajar, Habibi mengusulkan pengadaan rak buku di halte dan di dalam bus.

Inovasi ini bertujuan memanfaatkan waktu tunggu sekitar 20 menit agar pelajar beralih dari ponsel ke buku, terutama karya penulis lokal atau buku bertema budaya Banyumas. Langkah ini diharapkan menjadikan Banyumas sebagai pelopor kota layak anak yang memiliki ekosistem literasi komunal. Dengan akses yang lebih dekat dan mudah, membaca buku diharapkan tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan kebutuhan untuk pengembangan diri di masa depan.

"Waktu itu sangat terbatas, hanya 24 jam. Gunakanlah untuk sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan. Jangan pernah alasan karena tidak ada uang, karena banyak akses buku gratis di Purwokerto," pungkas Habibi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....