Ribuan Payung Warnai 20 Tahun Puhua Purwokerto
- 25 Apr 2026 12:19 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas- Perayaan dua dekade Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan Puhua School Purwokerto Kabupaten Banyumas, diwarnai sebuah karya monumental. Sebanyak 3.024 payung berkaligrafi Mandarin menghiasi dinding aula sekolah sejak Jumat ( 25/4/2026), menjadi instalasi seni-edukatif yang sarat pesan keberagaman.
Karya bertajuk “Penulisan Kaligrafi Mandarin pada Media Payung Terbanyak” ini diresmikan sebagai puncak peringatan 20 tahun berdirinya sekolah, Sabtu ( 25/4/2026). Karyan ini sekaligus diajukan untuk pencatatan rekor di Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Instalasi ini bukan sekadar pajangan visual. Ribuan payung kertas berdiameter 20 sentimeter itu disusun menjadi kolase besar, memuat kaligrafi bertema “Pendidikan Tanpa Perbedaan”, “20 Tahun Puhua”, hingga “I Love Indonesia”. Setiap goresan tinta menjadi simbol kuat tentang inklusivitas dan kebhinekaan.
Perwakilan MURI, Ari Andriani, menilai karya ini memenuhi unsur rekor dari sisi keunikan, skala, dan nilai edukatif. Instalasi tersebut juga melibatkan partisipasi luas, mulai dari siswa, guru, orang tua, alumni, hingga manajemen sekolah.
Direktur Puhua School, Chen Tao, menegaskan bahwa pencapaian ini bukan sekadar prestise. “Rekor ini adalah deklarasi bahwa keberagaman adalah kekuatan yang memajukan pendidikan Indonesia. Tidak ada anak yang boleh tertinggal hanya karena perbedaan identitas,” ujarnya.
Dirinya menambahkan, perpaduan Bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing seperti Mandarin menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang berakar kuat sekaligus siap bersaing secara global.
Proses pembuatan instalasi ini memakan waktu sekitar delapan bulan. Dimulai sejak Agustus 2025, seluruh elemen sekolah terlibat dalam setiap tahap, dari perencanaan hingga pemasangan. Puncaknya, ribuan payung dipasang secara gotong royong pada April 2026.
Lanjutnya, pemilihan payung sebagai medium bukan tanpa makna. Payung melambangkan naungan sebuah filosofi bahwa sekolah harus menjadi ruang aman bagi setiap anak untuk belajar dan berkembang tanpa diskriminasi.
Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok Ye Su, serta perwakilan pemerintah dan jaringan sekolah tiga bahasa se-Indonesia.
Selain peresmian instalasi, rangkaian kegiatan meliputi seminar nasional, hearing pendidikan, hingga peluncuran pusat ujian Bahasa Mandarin berbasis komputer. Para tamu juga diajak melihat berbagai inovasi karya siswa, mulai dari alat pendeteksi kematangan alpukat hingga becak hybrid berbasis kecerdasan buatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....