Pembatasan Gawai Anak, Buku Jadi Solusi Alternatif

  • 24 Apr 2026 10:03 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto: Wacana pembatasan akses internet bagi anak di bawah usia 16 tahun kembali menjadi perhatian dalam Academic Forum Pro 2 Purwokerto, Kamis (23/04/26). Diskusi tersebut menyoroti pentingnya menghadirkan aktivitas alternatif, seperti membaca buku, sebagai pengganti penggunaan gawai.

Mahasiswa HMI Hukum Unsoed Purwokerto, Muhammad Yusuf Habibi, menjelaskan bahwa kebijakan yang disebut sebagai Tunas atau Tunggu Anak Siap tersebut bertujuan untuk membatasi penggunaan internet pada anak-anak yang dinilai belum siap menghadapi dunia digital. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya sekadar melarang, tetapi juga harus diimbangi dengan solusi nyata.

“Ketika anak-anak dibatasi dari penggunaan ponsel dan media sosial, jangan sampai muncul kekosongan aktivitas. Membaca buku bisa menjadi alternatif yang sangat penting,” ujar Habibi.

Ia menilai buku memiliki nilai lebih karena mampu menghadirkan pengalaman dan pemikiran mendalam dari penulis yang melalui proses panjang. Dengan membaca, anak-anak diharapkan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial.

Habibi juga menyarankan sebuah gagasan inovatif untuk mendorong minat baca, seperti penyediaan rak buku di halte transportasi umum. Ide ini berangkat dari kebiasaan pelajar yang menghabiskan waktu menunggu dengan bermain ponsel.

“Kalau di halte tersedia buku, anak-anak bisa mulai membaca. Ini bisa membangun kebiasaan baru secara perlahan,” tambahnya.

Selain meningkatkan literasi, langkah tersebut juga dinilai mampu memperkenalkan karya penulis lokal serta memperkuat pemahaman generasi muda terhadap budaya daerah. Upaya membatasi penggunaan gawai harus dibarengi dengan penguatan ekosistem literasi, agar anak-anak tetap produktif dan berkembang secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....