Kenaikan BBM Nonsubsidi Dinilai Rasional, Beban Terasa di Sektor Logistik
- 22 Apr 2026 10:41 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyums: Kenaikan harga tiga jenis bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai sebagai langkah yang tidak terhindarkan di tengah tekanan global. Pengamat kebijakan publik dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Dr. Tobirin menyebut, kebijakan ini sebagai keputusan rasional untuk menjaga kesehatan anggaran negara.
Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap harga energi global membuat pemerintah harus menyesuaikan harga BBM nonsubsidi. Jika tidak, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan semakin tergerus oleh subsidi.
“Kalau dipertahankan, justru APBN yang tertekan dan berdampak ke kebijakan ekonomi lainnya. Ini pilihan rasional di tengah kondisi global,” ucapnya kepada RRI, Rabu (22/4/2026).
Ia menambahkan, dinamika geopolitik seperti ketegangan di kawasan Selat Hormuz turut memengaruhi ketahanan energi nasional. Kondisi ini membuat harga energi sulit dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah.
Meski demikian, pemerintah tidak menaikkan seluruh jenis BBM nonsubsidi. Harga Pertamax tetap dipertahankan. Tobirin menilai langkah ini sebagai upaya menjaga stabilitas sosial, terutama bagi kelompok masyarakat kelas menengah.
“Kalau BBM yang banyak dipakai masyarakat menengah ikut naik, dampaknya bisa luas, termasuk potensi gejolak sosial,” katanya.
Menurut Tobirin, kenaikan harga bahan bakar ini paling dirasakan oleh pengguna BBM jenis Dexlite dan Pertamina Dex, yang umumnya digunakan kendaraan dengan kapasitas mesin besar. Tobirin menyebut kelompok ini didominasi masyarakat kelas menengah atas.
“Pengguna mobil dengan cc besar harus siap dengan fluktuasi harga. Itu konsekuensi logis dari pilihan kendaraan,” ujarnya.
Namun, dampak tidak hanya dirasakan individu. Tobirin menilai, sektor usaha, khususnya transportasi dan logistik, juga dipastikan terdampak. Kenaikan harga BBM jenis solar nonsubsidi berpotensi meningkatkan biaya distribusi barang dan jasa.
“Pengusaha travel, logistik, itu pasti merasakan. Apalagi kalau akses ke BBM subsidi juga dibatasi,” tuturnya.
Ia mengingatkan, kebijakan ini memiliki sisi positif dan negatif. Karena itu, pemerintah perlu memastikan setiap keputusan didasarkan pada riset yang matang serta perhitungan dampak yang jelas.
Selain itu, strategi mitigasi risiko dinilai penting, terutama untuk menjaga kelancaran distribusi energi di tengah ketidakpastian global. Pemerintah juga diminta transparan dalam menjelaskan alasan kebijakan kepada publik.
“Selama dijelaskan secara rasional, masyarakat akan bisa menerima. Yang penting ada komunikasi dan solusi,” ujarnya.
Tobirin memperkirakan harga BBM nonsubsidi masih berpotensi bertahan tinggi dalam waktu yang belum pasti, mengingat situasi global yang belum stabil.
“Kondisinya masih sulit diprediksi. Selama faktor global belum reda, harga akan mengikuti pasar,” ucap Tobirin.
Adapun penyesuaian harga BBM nonsubsidi diberlakukan oleh pemerintah mulai Sabtu (18/4/2026). Kebijakan ini membuat harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex naik.
Untuk wilayah Jawa, harga Pertamax Turbo naik dari sebelumnya Rp13.100 per liter menjadi Rp19.400 per liter, kemudian Dexlite melonjak dari Rp14.200 per liter menjadi Rp23.600 per liter. Begitu pula Pertamina Dex yang naik menjadi Rp23.900 per liter dari sebelumnya Rp14.500 per liter.
Sementara itu, harga Pertamax tetap Rp12.300 per liter dan Pertamax Green 95 Rp12.900 per liter. Untuk BBM subsidi, Pertalite masih di harga Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....