Bukan Sekadar Kebaya, Kartini Sosok Pejuang Literasi

  • 21 Apr 2026 10:59 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April sering kali identik dengan tradisi mengenakan pakaian adat kebaya. Namun, bagi aktivis perempuan asal Kabupaten Purbalingga, Sri Bawa Tri Juniati, esensi perjuangan Raden Ajeng Kartini jauh melampaui sekadar simbol busana, melainkan tentang semangat literasi dan kemajuan pola pikir perempuan di era modern.

Sri Bawa Juniati, yang juga menjabat sebagai Penasehat GOW Kabupaten Purbalingga, menekankan bahwa masyarakat perlu melihat sisi lain dari sosok Kartini sebagai motor penggerak perubahan melalui tulisan dan pemikiran. Menurutnya, kebaya hanyalah pakaian keseharian yang melekat pada zamannya, namun warisan terbesarnya adalah keberanian untuk memperluas wawasan.

"Jangan hanya beranggapan Hari Kartini itu soal ibu-ibu berkebaya. Kita harus mengambil motivasinya, bagaimana pikiran beliau di 147 tahun yang lalu sudah sangat maju dengan segala keterbatasan yang ada. Beliau adalah pejuang literasi bagi perempuan," ujarnya saat diwawancarai oleh RRI Purwokerto pada Selasa (21/4/2026).

Lebih lanjut, Sri Bawa menjelaskan bahwa di era global yang semakin kompleks, perempuan dituntut memiliki literasi yang kuat untuk menjadi "tiang" dalam keluarga. Peran ini tidak hanya terbatas pada sektor domestik, tetapi juga sebagai mitra strategis bagi suami dan pendidik utama bagi anak-anak agar siap menghadapi dunia nyata maupun dunia maya.

Hal senada mengenai relevansi perjuangan Kartini juga diungkapkan melalui kegiatan nyata di lapangan. Sri Bawa menyebutkan bahwa emansipasi bukan berarti perempuan ingin melebihi laki-laki, melainkan mendapatkan akses pendidikan dan kesempatan yang setara untuk berkarya di semua sektor.

"Pendidikan adalah kunci untuk membebaskan perempuan dari keterbelakangan. Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan dan pemandangannya diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia masa lalu yang penuh keterbatasan," katanya mengutip nilai perjuangan Kartini.

Guna menjaga semangat tersebut, komunitas perempuan di Purbalingga kini mulai menggeser fokus peringatan dari sekadar lomba busana menjadi kegiatan peningkatan kapasitas SDM. Diantaranya melalui pelatihan olahan minyak jelantah untuk ekonomi keluarga serta lomba esai bertajuk "Surat kepada Perempuan Masa Kini" guna membangkitkan kembali semangat literasi.

Terakhir, Sri Bawa menyampaikan pesan dan harapannya kepada seluruh perempuan Indonesia agar terus berdaya di tengah berbagai keterbatasan. Ia mendorong agar perempuan tidak kecil hati meski memilih jalur sebagai ibu rumah tangga, selama tetap memiliki pikiran yang terbuka dan mau terus belajar.

"Mari kita ambil pelajaran dari semangat beliau untuk selalu meningkatkan kapasitas diri. Perempuan harus menunjukkan bahwa kita mampu melaksanakan semua peran, baik di sektor domestik maupun publik, sesuai dengan norma yang berlaku," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....