SMAN 1 Rembang Jelajah Sejarah di Desa Pekiringan
- 18 Apr 2026 08:54 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purbalingga: Ratusan siswa kelas XI SMA Negeri 1 Rembang (SMANSAR) punya cara seru untuk belajar sejarah dan budaya. Mereka menggelar kegiatan outing class kokurikuler ke Desa Pekiringan, Kabupaten Purbalingga, Jumat (17/4/2026). Desa ini bukan desa biasa. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai Bumi Perdikan Cahyana ini menyimpan jejak dakwah wali besar yang merupakan keturunan langsung dari Sunan Kudus dan Sunan Ampel.
Kunjungan pertama para siswa tertuju pada Masjid Wali Perkasa. Masjid kuno ini dibangun langsung oleh penguasa Karangmoncol saat itu, yakni Wali Perkasa. Menariknya, Karangmoncol pada masa kerajaan Jawa berstatus sebagai wilayah perdikan. Artinya, daerah ini istimewa dan dibebaskan oleh raja dari kewajiban membayar pajak atau upeti.
Masjid Wali Perkasa saat ini telah resmi berstatus sebagai cagar budaya melalui SK Bupati Purbalingga No 432/226 Tahun 2018. Di bangunan utamanya, terdapat peninggalan asli berupa 4 saka guru (tiang utama) dari kayu jati yang dilengkapi dengan ukiran kaligrafi.
Juru kunci masjid, Mahdi Fauzi, mengungkapkan fakta menarik di balik tiang-tiang tersebut.
"Bentuk bangunan tiang yang ada di sini sama persis menyerupai tiang Masjid Demak. Karena sejarahnya, Wali Perkasa merupakan salah satu tokoh yang ikut membangun Masjid Demak bersama Sunan Kalijaga," tutur Mahdi di lokasi.
Selain belajar sejarah bangunan, siswa juga dikenalkan pada budaya lokal yang masih lestari hingga hari ini. Beberapa di antaranya adalah pantangan atau larangan berjualan nasi bagi warga sekitar, serta tradisi Braen, yakni kesenian lokal yang berisi lantunan selawat dan doa-doa.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke kompleks Makam Syekh Makdum Cahyana. Beliau merupakan tokoh penerus perjuangan Wali Perkasa.
Di kompleks ini, para siswa melihat langsung berbagai peninggalan bersejarah seperti lumbung padi kuno, makam Syekh Makdum, musala, dan aula pertemuan. Tepat di samping area makam, menjulang Bukit Cahyana yang dulunya menjadi tempat semedi tokoh besar penyebar Islam lainnya, yakni Syekh Jambu Karang dan Syekh Atas Angin.
Kegiatan outing class ini rupanya bukan sekadar jalan-jalan. Koordinator kegiatan kokurikuler, Bambang Eko Basuki, menyebut acara ini mengintegrasikan tiga mata pelajaran sekaligus, yakni Sejarah, Seni Budaya, dan Bahasa Indonesia.
"Pada mata pelajaran Sejarah, siswa belajar menggali informasi tentang sejarah Masjid Wali Perkasa dan Makam Syekh Makdum. Sedangkan di mapel Seni Budaya, siswa mempelajari peninggalan seninya. Untuk mapel Bahasa Indonesia, siswa belajar melaporkan hasil observasi ini ke dalam bentuk karya tulis," jelas Bambang.
Metode belajar langsung di lapangan ini terbukti efektif menarik minat siswa. Salah satu siswi kelas XI, Clarisa Anjani, mengaku antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
"Belajar sejarah dan budaya jadi jauh lebih menyenangkan karena kita melihat langsung peninggalannya, bukan cuma membayangkan dari buku. Mengamati ukiran tiang masjid yang mirip buatan Sunan Kalijaga dan tahu ada tradisi larangan jualan nasi bikin saya makin sadar betapa kaya budaya kita," kata Clarisa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....