Harga Plastik Melambung, Pedagang dan Pelaku Usaha di Purwokerto Bimbang
- 06 Apr 2026 17:57 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Kenaikan harga plastik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dikeluhkan oleh para pedagang hingga pelaku usaha kecil. Lonjakan harga yang terjadi disebut mencapai hampir dua kali lipat dari harga normal, sehingga berdampak langsung pada aktivitas perdagangan dan operasional usaha
Yuli, pemilik salah satu toko plastik di Purwokerto Utara, mengatakan kenaikan harga sudah mulai terasa sejak seminggu sebelum Lebaran dan masih terjadi hingga setelahnya. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, harga kembali mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
“Semua jenis plastik naik. Seminggu sebelum lebaran itu sudah ada kenaikan, tetapi tidak begitu banyak. Kemudian setelah lebaran sampai sekarang, baru kemarin naik juga. Sudah tinggi sekali, harga sebelumnya satu kilo plastik PP 32 (ribu), sekarang sudah sampai 50 lebih,” ujarnya saat diwawancarai RRI, Sabtu (4/4/2026).
Tidak hanya harga, ketersediaan barang juga menjadi kendala. Yuli mengungkapkan beberapa jenis plastik yang banyak dicari pelanggan kini mulai langka di pasaran. Kondisi tersebut membuat pedagang harus mencari alternatif merek lain untuk memenuhi kebutuhan.
Kenaikan ini juga berdampak pada daya beli konsumen, yang mayoritas merupakan para pelaku UMKM. Banyak pelanggan yang sebelumnya membeli dalam jumlah besar kini mulai mengurangi pembelian.
“Kebanyakan pelanggan di sini merupakan home industry. Jadi waktu kemarin-kemarin mungkin mereka baru mau stok lagi itu syok dengan harganya. Yang biasa beli misalkan sampai satu lusin atau satu ikat, satu pak, sekarang cuma setengah pak doang atau cuma berapa pieces,” tuturnya.
Di sisi lain, pelaku usaha yang menggunakan plastik sebagai bagian dari operasional juga merasakan dampak serupa. Taufiq, seorang pemilik usaha laundry, mengaku kenaikan harga plastik meningkatkan biaya operasional usahanya.
Ia menjelaskan, meskipun biaya plastik packing terlihat kecil, dampaknya tetap terasa jika dihitung secara keseluruhan. Dalam satu bulan, pengeluaran untuk pembelian plastik yang sebelumnya berkisar Rp 150 ribu kini bisa mencapai hampir Rp 300 ribu. Hal ini membuat keuntungan usahanya menjadi berkurang.
“Sekali beli biasanya di angka 150 sampai 170 ribu untuk plastik berbagai ukuran. Katakan sekitar 5 kilo sekali beli. Kalau sekarang harus beli full seperti semula ya hampir 300 atau 200-an ribu sekian untuk sekali belinya,” katanya.
Meskipun beban biaya membengkak, Taufiq belum berani menaikkan harga layanan karena ketatnya persaingan usaha laundry di lingkungan sekitar. Ia baru akan menyesuaikan tarif jika harga sabun dan biaya listrik turut mengalami kenaikan.
Kedua pihak berharap harga plastik dapat segera normal atau kembali stabil, sehingga tidak memberatkan para pembeli maupun pelaku usaha.
“Kalau naik itu wajar, tapi jangan sampai dua kali lipat. Harapannya bisa kembali normal atau setidaknya naiknya masih dalam batas wajar,” tutur Taufiq.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....